Laporan Penelitian Analisis Kesalahan Berbahasa

BAB I

PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Bahasa adalah alat komunikasi yang paling efektif. Dengan demikian, bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari dari kehidupan manusia. Dengan bahasa, manusia dapat berinteraksi satu sama lain. Hal itu sejalan dengan pendapat dari Chaer (2011:2) mengatakan bahwa fungsi bahasa adalah sebagai alat untuk bekerja sama atau berkomunikasi dalam kehidupan masyarakat.
Bahasa dapat dikuasai seseorang melalui dua cara, yaitu pemerolehan dan pembelajaran. Pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama (Chaer, 2009: 167), sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua dan lebih mengacu pada pendidikan formal (Chaer, 2009: 242). Penguasaan bahasa didapat dari proses pemerolehan perlu ditunjang dengan pemerolehan bahasa. Melalui pembelajaran bahasa, seseorang akan mendapat pengettahuan tentang kaidah pemakaian bahasa untuk kepentingan lebih formal.
Sebagai salah satu keterampilan berbahasa, menulis digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung atau tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan salah satu kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa dalam proses pembelajaran. Melalui kegiatan menulis, siswa menjadi lebih aktif dan kreatif karena siswa dapat menciptakan suatu karya yang baru dan mengemukakan ide yang dimiliki melalui tulisan dengan menggunakan gaya bahasa sendiri. Menulis sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa.
Salah satu keterampilam menulis yang diajarkan di sekolah adalah menulis teks cerpen. Teks cerita pendek diartikan sebagai sebuah karya fiksi yang dapat selesai dibaca hanya sekali duduk. Keterampilan menulis teks cerita pendek harus dikuasai oleh siswa kelas VII SMPN 1 Pangkalan Bun karena salah satu materi yang terdapat dalam Kompetensi Dasar pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Teks cerita pendek sangat menarik bagi siswa karena tema-tema yang biasa diangkat dalam cerita berkaitan dengan kehidupan di lingkungan sekitar, contohnya mengenai persahabatan.
Meskipun keterampilan menulis telah diajarkan di SMPN 1 Pangkalan Bun , kesalahan berbahasa dalam penulisan masih sering dijumpai dalam hasil karya siswa. Hal itu disebabkan oleh banyak siswa yang menganggap menulis merupakan hal yang sulit sehingga mereka malas untuk belajar menulis. Contoh kesalahan yang pernah terjadi adalah penggunaan subjek, objek, predikat, dan keterangan dalam menyusun kalimat.
Berdasarkan uraian singkat di atas, peneliti bermaksud melakukan penelitian mengenai kesalahan kalimat yang terdapat dalam cerpen siswa SMP. Peneliti ingin mengetahui apa saja jenis kesalahan berbahasa yang sering dilakukan oleh siswa.

2.      Rumusan Masalah dan Tujuan

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti merumuskan masalah yang akan diteliti :
a.       Bagaimana kesalahan menyusun kalimat efektif yang terdapat dalam teks cerpen siswa SMPN 1 Pangkalan Bun?
b.      Adakah letak kesalahan pada unsur kalimat yang terdapat dalam teks cerpen siswa SMPN 1 Pangkalan Bun?
c.       Adakah kesalahan pada kalimat ambiguitas yang terdapat dalam teks cerpen siswa SMPN 1 Pangkalan Bun?
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian mencari solusi dalam memecahkan masalah yaitu :
a)      Untuk mengetahui kesalahan dalam menyusun kalimat efektif yang terdapat dalam teks cerpen siswa SMPN 1 Pangkalan Bun.
b)      Untuk mengetahui letak kesalahan pada unsur kalimat yang terdapat dalam teks cerpen siswa SMPN 1 Pangkalan Bun.
c)      Untuk mengetahui kesalahan pada kalimat ambiguitas yang terdapat dalam teks cerpen siswa SMPN 1 Pangkalan Bun.

3.      Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi guru, mahasiswa, dan peneliti selanjutnya. Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut.
a.       Bagi Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Penelitian ini dapat memberikan masukan kepada guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk mengetahui kesalahan berbahasa dalam penyusunan kalimat yang sering dilakukan oleh siswa sehingga guru dapat membantu siswa untuk memperbaiki kesalahannya.
b.      Bagi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Penelitian ini dapat memberikan informasi bagi para mahasiswa calon guru mengenai beberapa kesalahan berbahasa yang sering terjadi pada siswa sehingga mereka dapat memberikan pengajaran berbahasa yang lebih baik.
c.       Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini dapat memberikan gambaran bagi peneliti lain untuk dapat mengembangkan penelitian yang sejenis dan menyempurnakan penelitian ini.
4.      Asumsi
Menurut Surakhmad dalam Endang (2008:7) bahwa asumsi dasar atau anggapan dasar adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya di terima oleh penyidik. Jadi asumsi ppenelitian dapat diartikan sebagai anggapan dasar tentang suatu hal yang menjadi pedoman berfikir peneliti.
Asumsi yang mendasari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.       Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan.
b.      Teks cerita pendek adalah teks yang berupa fiksi pendek yang selesai dibaca dalam “sekali duduk”, hanya memiliki satu arti, satu krisis, dan satu efek untuk pembacanya.





5.      Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran dan arah mengenai informasi permasalahan inti yang ada dalam suatu penelitian.
è Variabel penelitian
Dalam penelitian ini ada 2 variabel, yaitu variabel bebas yaitu penggunaan kalimat pada teks cerpen siswa SMPN 1 Pangkalan Bun.
è Subjek penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa.
è Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan pada sekolah.
6.      Batasan Istilah
Dalam penelitian ini, digunakan beberapa istilah yang pengertiannya perlu dibatasi. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam penafsiran. Istilah-istilah yang dibatasi pengertiannya sebagai berikut.
a.       Kesalahan Berbahasa
Kesalahan berbahasa adalah penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tulisan yang menyimpang dari faktor-faktor penentu komunikasi atau menyimpang dari norma kemasyarakatan dan menyimpang dari kaidah tata bahasa Indonesia.
b.      Analisis Kesalahan Berbahasa
Analisis kesalahan berbahasa yakni suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh peneliti dan guru bahasa yang meliputi pengumpulan sampel, pengidentifikasi kesalahan yang terdapat dalam sampel, penjelasan kesalahan, pengklasifikasian kesalahan berdasarkan penyebabnya, serta pengevaluasian taraf keseriusan kesalahan (Tarigan, 1988: 68).
c.       Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan (Wijayanti, 2015: 53).
d.      Kalimat Efektif
Kalimat efektif yaitu kalimat yang singkat, padat, jelas, lengkap, dan dapat menyampaikan informasi secara tepat. Singkat berarti penulis hanya menggunakan unsur-unsur yang penting. Padat berarti kalimatnya sarat informasi dan tidak banyak pengulangan gagasan. Lengkap berarti mengandung makna kelengkapan struktur kalimat dan kelengkapan gagasan (Widjono, 2005: 148).
e.       Cerita Pendek
Cerita pendek adalah fiksi pendek yang selesai dibaca dalam “sekali duduk”, hanya memiliki satu arti, satu krisis, dan satu efek untuk pembacanya (Sumardjo, 2007: 202).






















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

1.      Pengertian Kesalahan Berbahasa
Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa kata yang artinya bernuansa dengan kesalahan yaitu penyimpangan, pelanggaran dan kekhilafan. Keempat kata dideskripsikan sebagai berikut :
a.       Kata “salah” diantonimkan dengan “betul”, artinya apa yang dilakukan tidak betul, tidak menurut norma, tidak menurut aturan yang ditentukan. Hal ni disebabkan oleh pemakai bahasa yang belum tahu, atau tidak tahu terdapat norma, kemungkinan yang lain dia khilaf.
b.      “Penyimpangan” dapat diartikan menyimpang dari norma yang telah ditetapkan. Pemakai bahasa menyimpang karena tidak mau, enggan, malas mengikuti norma yang ada. Kemungkinan lain penyimpangan disebabkan oleh keinginan kuat tidak dapat dihindari karena satu dan lain hal.
c.       “Pelanggaran”terkesan negatif karena pemakai bahasa dengan penuh kesadaran tidak mau menurut norma yang telah ditentukan, sekalipun dia mengetahui bahwa yang dilakukan berakibat tidak baik.
d.      “Kekhilafan” merupakan proses psikologis yang dalam hal ini menandai seseorang khilaf menerapkan teori atau norma bahasa yang ada pada dirinya, khilaf  mengakibatkan sikap keliru memakai. Kekhilafan dapat diartikan kekeliruan. Kemungkinan salah ucap, salah susun karena kurang cermat.
Apa yang dimaksud kesalahan berbahasa? Terdapat dua jawaban atas pertanyaan tersebut, yaitu :
1)      Berkaitan dengan faktor-faktor penentu dalam komunikasi. Faktor penentu dalam komunikasi, yakni: siapa yang berbahasa dengan siapa, untuk tujuan apa, dalam situasi apa (tempat dan waktu), dalam konteks apa (peserta lain, kebudayaan, dan suasana), dengan jalur apa (lisan atau tulisan), dengan media apa (tatap muka, telepon, surat, kawat, buku, koran dan sebagainya), dalam peristiwa apa (bercakap-cakap, ceramah, upacara, laporan, lamaran kerja, pernyataan cinta, dan sebagainya), dan
2)      Berkaitan dengan aturan atau kaidah kebahasaan yang dikenal dengan istilah tata bahasa. (Depdikbud, 1995)
Jadi, kesalahan berbahasa adalah penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tulisan yang menyimpang dari faktor-faktor penentu komunikasi atau menyimpang dari norma kemasyarakatan dan menyimpang dari kaidah tata bahasa Indonesia.
2.      Penyebab Kesalahan Berbahasa
Penyebab kesalahan berbahasa ada pada orang yang menggunakan bahasa yang digunakannya. Ada tiga kemungkinan penyebab seseorang dapat salah dalam berbahasa, antara lain:
1)      Terpengaruh bahasa yang lebih dahulu dikuasainya. Bahwa kesalahan bahasa disebabkan oleh interferensi bahasa ibu atau bahasa pertama (B1) terhadap bahasa kedua (B2) yang sedang dipelajari si pembelajar (siswa). Dengan kata lain sumber kesalahan terletak pada perbedaan sistem linguistik B1 dengan B2.
2)      Kekurangpahaman pemakai bahasa terhadap bahasa yang dipakainya. Dengan kata lain, salah atau keliru menerapkan kaidah bahasa. Misalnya, kesalahan generalisasi, aplikasi kaidah bahasa secara tidak sempurna, dan kegagalan mempelajari kondisi penerapan kaidah bahasa. Kesalahan ini disebabkan oleh : a) penyamarataan berlebihan, b) ketidaktahuan pembatasan kaidah, c) penerapan kaidah yang tidak sempurna, dan d) salah menghipotesiskan konsep.
3)      Pengajaran bahasa yang kurang tepat atau kurang sempurna. Berkaitan dengan bahan yang diajarkan dan cara pelaksanaan pengajaran. Bahan pengajaran menyangkut masalah sumber, pemilihan, penyusunan, pengurutan, dan penekanan. Cara pengajaran menyangkut masalah pemilihan teknik penyajian, langkah-langkah dan urutan penyajian, intensitas dan kesinambungan pengajaran, dan alat-alat bantu dalam pengajaran.
3.      Pengertian Analisis Kesalahan Berbahasa
Kesalahan berbahasa dianggap sebagai bagian dari proses belajar mengajar, baik belajar secara formal maupun informal. Pengalaman guru di lapangan menunjukkan bahwa kesalahan berbahasa tidak hanya dibuat oleh siswa yang mempelajari B2, tetapi oleh siswa yang mempelajari B1. Siswa yang mempelajari bahasa Indonesia atau bahasa Inggris sering berbuat kesalahan berbahasa baik secara lisan maupun tulis. Siswa SD yang mempelajari bahasa ibu seperti bahasa Batak, bahasa Bali, bahasa Sunda, bahasa Jawa, atau bahasa daerah lainnya sering membuat kesalahan bahasa dalam proses belajar-mengajar bahasa Batak, bahasa Bali, bahasa Sunda, bahasa Jawa, atau bahasa daerah lainnya.
Kesalahan berbahasa terjadi oleh siswa dalam suatu proses belajar mengajar mengimplikasikan tujuan pengajaran bahasa belum tercaapai secara maksimal. Semakin tinggi kuantitas kesalahan berbahasa, semakin sedikit tujuan pengajaran bahasa yang tercapai. Kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh siswa harus dikurangi sampai ke batas minimal, bahkan diusahakan dihilangkan sama sekali. Hal ini dapat tercapai jika guru pengajar bahasa telah mengkaji secara mendalam segaala aspek kesalahan berbahasa.
Menurut Ellis (Tarigan, 1988) bahwa terdapat lima langkah kerja analisis bahasa, yaitu :
1.      Mengumpulkan sampel kesalahan
2.      Mengidentifikasi kesalahan
3.      Menjelaskan kesalahan
4.      Mengklasifikasi kesalahan
5.      Mengevaluasi kesalahan
Berdasarkan langkah kerja tersebut, dapat disusun pengertian analisis kesalahan berbahasa. Analisis kesalahan berbahasa yakni suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh peneliti dan guru bahasa yang meliputi pengumpulan sampel, pengidentifikasi kesalahan yang terdapat dalam sampel, penjelasan kesalahan, pengklasifikasian kesalahan berdasarkan penyebabnya, serta pengevaluasian taraf keseriusan kesalahan (Tarigan, dkk, 1996/1997: 25).
4.      Kesalahan dalam Bidang Kalimat
1.      Menurut Widjono (2005: 154), kalimat adalah satuan bahasa yang terkecil yang merupakan kesatuan pikiran. Menurut Kridalaksana (2008: 103), kalimat ialah satuan bahasa yang berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa.
Menurut Hasan Alwi, dkk. dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, kalimat adalah satuan bahasa berupa kata atau rangkaian kata yang dapat berdiri sendiri dan menyatakan makna yang lengkap. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Sedangkan dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!); sementara itu di dalamnya disertai dengan tanda koma (,), tanda titik dua ( : ), tanda pisah (-) dan spasi.
Dari beberapa pengertian di atas lebih mengacu pada pengertian kalimat yang dikemukakan oleh Alwi dkk., karena dijelaskan bahwa kalimat adalah satuan bahasa terkecil mencakup lisan dan tulisan.
a)      Fungsi Unsur Kalimat
Kalimat minimal terdiri atas dua unsur wajib yaitu unsur subjek dan predikat. Di samping itu, ada juga yang bersifat tidak wajib yakni unsur objek, pelengkap, dan keterangan (Wijayanti, 2015: 54). Berikut dijelaskan unsur-unsur didalam kalimat :
·         Subjek
Menurut Wijayanti (2015: 54), subjek (S) adalah bagian kalimat yang menandai apa yang dinyatakan oleh penulis. Subjek berkategori nomina (N), frasa nominal (FN), verba (V), atau frasa verba (FV). Contoh sebagai berikut :
a.       Harimau adalah binatang liar
          S-N
b.      Adik saya  belum makan
   S-FN
c.       Menyanyi hobi saya
   S-V
d.      Menyaksikan kisah sukses seseorang
                S-FV
menginspirasi seseorang.
Ciri-ciri subjek menurut Kuntarto (2007: 146) adalah sebagai berikut.
a.       Mengajukan pertanyaan yang menggunakan kata tanya (Apa/Siapa (yang))..... dengan predikat sebagai tumpuan,
b.      Disertai kata penujuk,
c.       Didahului kata bahwa,
d.      Tidak didahului kata depan, dan
e.       Ditandai dengan keterangan  yang.
·         Predikat
Predikat (P) adalah bagian kalimat yang menjelaskan subjek. Predikat biasanya berkategori verba (V), frasa verbal (FV), adjektiva (Adj), frasa adjektival (FAdj), frasa numeral/frasa bilangan, frasa preposisional/frasa depan, dan frasa nominal (FN) (Alwi dkk, 2008: 326). Contohnya sebagai berikut :
1.      Kemal tidur.
                   P-V
2.      Kemal sedang tidur.
               P-FV
3.      Teman saya dua orang.
                     P-Fbilangan
4.      Saya mahasiswa.
           P-N
5.      Saya mahasiswa Sanata Dharma.
                    P-FN
6.      Ibu ke pasar.
        P-Fprep
7.      Suamiku ganteng.
                 P-FAdj
8.      Adikku cantik sekali.
                P-Fadj
Ciri-ciri Predikat :
a.       Dapat diketahui dengan mengajukan pertanyaan apa dan bagaimana subjek.
b.      Dapat diingkarkan dengan tidak atau bukan. Tidak diikuti bentuk verba atau adjektiva, sedangkan bukan diikuti nomina. Jika subjek kalimat panjang sehingga batas antara subjek dengan predikat tidak jelas, predikat dapat didahului adalah, ialah, atau merupakan, tetapi bukan yaitu.
c.       Dapat didahului akan, sudah, sedang, selalu, atau hampir.
d.      Dapat didahului sebaiknya, seharusnya, atau seyogianya.
·         Objek
Objek (O) adalah unsur kalimat yang wajib hadir setelah verba transitif pada kalimat aktif (ditandai dengan –kan, -i, meN-) (Wijayanti, 2015: 58). Contohnya sebagai berikut:
1.      Aji mencintai aku sepenuh hati.
                         O
Ciri-ciri objek :
a.       Berkategori nomina (N) atau frasa nominal (FN).
b.      Dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif.
c.       Tidak didahului kata depan.



·         Pelengkap
Pelengkap (Pel) atau komplemen, seperti objek, hadir setelah verba. Namun, pelengkap dan objek memiliki perbedaan yang jelas. Pelengkap dalam kalimat tidak dapat menjadi subjek jika kalimat tersebut dipasifkan. Predikat yang diikuti pelengkap adalah kata yang berimbuhan ber-, ter-, ber-an, ber-kan, dan kata-kata khusus, seperti seperti, merupakan, berdasarkan, dan menjadi (Alwi dkk, 2008: 326).  Contoh sebagai berikut :
1.      Indonesia berlandaskan hukum.
                                          Pel
Ciri-ciri Pelengkap :
a.       Berkategori nomina (N), frasa nominal (FN), adjektiva (Adj), frasa adjektival (FAdj), frasa verba (FV), dan frasa preposisional (FPrep).
b.      Terdapat tepat di belakang predikat jika tidak ada objek atau di belakang objek jika objek hadir di dalam kalimat.
c.       Tidak dapat dijadikan bentuk pasif.
·         Keterangan
Keterangan (K) adalah unsur kalimat yang menambahkan penjelasan mengenai waktu, cara, sebab, akibat, dan sebagainya. Kehadirannya bersifat manasuka karena bukan merupakaninti kalimat. Fungsinya meluaskan atau membatasi makna subjek atau predikat (Alwi dkk, 2008: 326). Contoh sebagai berikut:
1.      Setiap hari Senin, kami mengadakan upacara bendera.
           Ket
Ciri-ciri Keterangan :
a.       Bukan unsur utama kalimat, tetapi kalimat tanpa keterangan pesan menjadi tidak jelas dan tidak lengkap.
b.      Tempat tidak terikat posisi, pada awal, tengah, atau akhir kalimat.
c.       Dapat berupa : keterangan waktu, tujuan, tempat, sebab, akibat, syarat, cara, posesif (posesif ditandai kata meskipun, walaupun, atau biarpun), dan pengganti nominal (menggunakankata bahwa).

b)        Jenis Kalimat
Hasan Alwi (2008: 352-362) menyatakan bahwa jika dilihat dari bentuk sintaksis, jenis kalimat terbagi menjadi empat yakni :
v  Kalimat Deklaratif
Kalimat deklaratif juga dikenal dengan kalimat berita. Pada umumnya kalimat deklaratif digunakan oleh pembicara atau penulis untuk membuat pernyataan sehingga isinya merupakan berita bagi pendengar atau pembacanya.
v  Kalimat Imperatif
Kalimat imperatif merupakan kalimat yang mengandung makna perintah atau larangan. Kalimat imperatif memiliki ciri formal sebagai berikut:
Ø  Intonasi yang ditandai dengan nada rendah di akhir tuturan.
Ø  Pemakaian partikel penegas, penghalus, dan kata tugas ajakan, harapan, permohonan, serta larangan.
Ø  Susunan inversi sehingga urutannya menjadi tidak selalu terungkap predikat-subjek jika diperlukan.
Ø  Pelaku tindakan tidak selalu terungkap.
v  Kalimat Interogatif
Kalimat interogatif dikenal dengan kalimat tanya, secara formal ditandai dengan kata tanya seperti apa, siapa, dimana, berapa, kapan dan bagaimana dengan atau tanpa partikel –kah­ sebagai penegas. Kalimat interogatif diakhiri dengan tanda tanya (?) pada bahasa tulis dan bahasa lisan dengan suara naik.


v  Kalimat Eksklamatif
Kalimat eksklamatif dikenal dengan kalimat seru, secara formal ditandai oleh kata alangkah, betapa, atau bukan main pada kalimat berpredikat adjektival.
Pembedaan jenis kalimat ini, dapat ditinjau dengan cara lain yakni ditinjau dari bentuk aktif-pasif, nominal-verbal, langsung-tidak langsung, dan sebagainya.

c)         Kalimat Efektif
Banyak ahli yang mengemukakan pendapat mengenai kaliamt efektif. Menurut Abdul Razak (1990: 2) bahwa kalimat dikatakan efektif apabila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan berlangsung dengan sempurna. Kalimat yang efektif mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan tergambar lengkap dalam pikiran si penerima (pembaca) seperti apa yang disampaikan. Kalimat efektif yaitu kalimat yang singkat, padat, jelas, lengkap, dan dapat menyampaikan informasi secara tepat. Singkat berarti penulis hanya menggunakan unsur-unsur yang penting. Padat berarti kalimatnya sarat informasi dan tidak banyak pengulangan gagasan. Lengkap berarti mengandung makna kelengkapan struktur kalimat dan kelengkapan gagasan (Widjono, 2005: 148). Menurut Soedjito (2012: 149), kalimat efektif adalah kalimat yang mengungkapkan gagasan pemakaian secara tepat dan dapat dipahami secara tepat pula.
Dari ketiga pendapat tersebut, peneliti lebih mengacu pada pendapat Widjono karena penjabaran mengenai kalimat efektif lebih jelas dan lengkap. Kalimat dapat dikatakan sebagai kalimat efektif jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a.       Kesatuan gagasan (hanya mengandung satu gagasan).
b.      Kesepadanan (keseimbangan gagasan dengan struktur kalimat).
c.       Keparalelan/kesejajaran (kesamaan bentuk atau makna yang digunakan dalam kalimat).
d.      Kehematan (tidak mengulang subjek, tidak memakai bentuk subordinat, tidak menggunakan kata bersinonim).
e.       Kelogisan (dapat diterima oleh akal sehat).
f.       Kecermatan (cermat dalam memilih diksi sehingga tidak menimbulkan tafsir ganda).
g.      Kebervariasian (penggunaan kalimat yang tidak menoton).
h.      Ketegasan (memberikan penekanan pada ide pokok kalimat).
i.        Ketepatan diksi.
j.        Kebenaran struktur (mengandung struktur bahasa Indonesia yang baik dan benar).
k.      Keringkasan (menggunakan kata yang ringkas) (Wijayanti, 2015: 68-75).
2.      Kesalahan Kalimat
a.       Kekurangan Unsur Kalimat
Menurut Sri Hapsari Wijayanti (2013: 54) bahwa subjek dan predikat merupakan unsur wajib dalam kalimat. Jadi, yang dimaksud dengan kesalahan unsur kalimat yaitu tidak adanya unsur wajib (subjek dan predikat) dalam kalimat tersebut. Ketidakhadiran unsur-unsur kalimat akan membuat kalimat tidak dipahami maksudnya.
Ø  Kalimat tidak bersubjek
Kalimat paling sedikit harus terdiri atas subjek dan predikat, kecuali kalimat perintah atau ujaran yang merupakan jawaban pertanyaan. Biasanya kalimat yang subjeknya tidak jelas terdapat dalam kalimat rancu, yaitu kalimat yang berpredikat verba aktif transitif di depan subjek terdapat preposisi. Contoh sebagai berikut.
Di dalam tas itu memuat beberapa buku.
          K                  P                 O
Kalimat tersebut merupakan kalimat tidak bersubjek, karena subjek kalimat aktif didahului preposisi dari, untuk, di dan di dalam. Kata lain yang sejenis preposisi dan sering mengaburkan subjek adalah dalam, bagi,  dari, dengan, sebagai, merupakan, kepada dan pada. Kalimat akan lengkap unsurnya jika kata di dalam dihilangkan dan kata tas itu menempati unsur subjek.
Perbaikan kalimat dia atas dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu a) jika tetap mempertahankan preposisi yang mendahului subjek maka predikat diubah menjadi kalimat pasif dan b) jika predikat tetap dalam bentuk aktif maka preposisi yang mendahului subjek harus dihilangkan.
Perbaikan untuk kalimat di atas sebagai berikut:
Tas itu memuat beberapa buku.
   S            P               O
Ø  Kalimat tidak berpredikat
Kalimat yang tidak memiliki predikat disebabkan oleh adanya keterangan subjek yang terlalu panjang, keterangan diberi keterangan lagi, sehingga penulis atau pembicaranya terlena dan lupa bahwa kalimat yang dibuatnya itu belum terdapat predikatnya. Contoh sebagai berikut.
Proyek raksasa yang menghabiskan dana yang besar serta tenaga kerja yang banyak dan ternyata pada saat ini sudah mulai beroperasi karena dikerjakan siang dan malam dan sudah diresmikan pada awal Repelita yang lalu oleh Kepala Negara.
Kalimat di atas tidak memiliki unsur predikat, karena kekurangan unsur predikat yang mengakibatkan kalimat menjadi tidak jelas. Pada contoh kalimat tersebut, penghilangan kata dan sudah cukup memadai dalam usaha membuat kalimat menjadi berpredikat. Subjek kalimat adalah Proyek raksasa yang menghabiskan dana yang besar serta tenaga kerja yang banyak itu dan predikat kalimatnya sudah mulai beroperasi. Perbaikan untuk kalimat di atas sebagai berikut.
Proyek raksasa yang menghabiskan dana yang besar serta tenaga kerja yang banyak itu ternyata pada saat ini sudah mulai beroperasi karena dikerjakan siang dan malam dan sudah diresmikan pada Repelita yang lalu oleh Kepala Negara.
Panjang suatu kalimat bukan merupakan suatu ukuran kalimat lengkap, sebaiknya kalimat yang dibuat haruslah pendek dan hemat, tetapi lengkap dan jelas. Pendek, hemat, lengkap dan jelas merupakan ciri-ciri kalimat efektif
b.      Kalimat Ambiguitas
Menurut Nanik Setyawati (2013: 85) berpendapat bahwa ambiguitas adalah kegandaan arti kalimat sehingga meragukan atau sama sekali tidak dipahami orang lain dan penyebab ambiguitas ada beberapa hal, di antaranya intonasi yang tidak tepat, pemakaian kata yang bersifat polisemi, dan struktur kalimat yang tidak tepat. Contoh sebagai berikut:
Pintu gerbang kerajaan yang indah terbuat dari emas.
Kalimat tersebut dapat diartikan dengan dua penafsiran : a) keterangan yang indah dapat mengenai nomina yang terakhir yaitu kerajaan; b) keterangan dapat mengenai keseluruhannya, yaitu pintu gerbang kerajaan. Kalimat tersebut menjadi ambigu karena maknanya tidak jelas. Untuk memperjelas kalimat tersebut maka perlu diubah menjadi kalimat seperti berikut.
Pintu gerbang yang ada di kerajaan yang indah itu terbuat dari emas.

5.      Cerita Pendek
Menurut Edgar Allan Poe (Nurgiyantoro, 2007: 10), cerpen ialah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira sekitar antara setengah sampai dua jam,suatu hal kiranya tak mungkin dilakukan untuk sebuah novel. Cerpen mempunyai panjang bervariasi. Ada cerpen yang pendek (short story) dan jumlah kata sekitar 500 kata, ada cerpen yang lumayan panjang (midle short story), dan ada cerpen yang panjang (long short story) terdiri dari ribuan kata.
Jakob Sumardjo (2007: 202) bahwa cerita pendek adalah fiksi pendek yang selesai dibaca dalam “sekali duduk”, hanya memiliki satu arti, satu krisis, dan satu efek untuk pembacanya. Sumardjo menambahkan bahwa pengarang cerpen hanya ingin mengemukakan suatu hal yang tajam menyebabkan dalam penulisan cerpen dituntut ekonomi bahasa.
Dalam penulisan teks cerita pendek, pengarang memiliki kebebasan penuh dalam hal mengkreasikan bahasa. Akan tetapi, pengarang tetap harus memperhatiakan struktur kalimat karena jika struktur kalimat tidak tepat akan mengakibatkan cerita tidak dapat disampaikan pada pembaca dengan baik. Keefektifan kalimat juga harus diperhatikan karena cerita pendek menuntut penceritaan yang ringkas dan padat.

BAB III
METODE PENELITIAN

1.      Pendekatan dan Jenis Rancangan
Pendekatan penelitian yang digunakan termasuk jenis penelitian kualitatif.  Menurut Moleong (2012: 4), penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Sedangkan menurut Gunawan (2013: 85) bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang masalah-masalah manusia dan sosial, bukan mendeskripsikan bagian permukaan dari suatu realitas sebagaimana dilakukan dalam penelitian kuantitatif dan positivismenya. Peneliti menginterpretasikan bagaimana subjek memperoleh makna dari lingkungan, dan bagaimana makna mempengaruhi perilaku mereka. Penelitian hanya dilakukan dalam latar (setting) yang alamiah (naturalistik) bukan hasil perlakuan ataupun manipulasi variabel yang dilibatkan. Ada beberapa karakteristik penelitian kualitatif, yakni:
a.       Mengkaji makna kehidupan orang-orang dalam kondisi dunia nyata.
b.      Mempresentasikan pandangan-pandangan atau perspektif partisipan dalam studi.
c.       Mencakup kondisi kontekstual dimana partisipan berada.
Berdasarkan pendapat Arikunto dan Moleong. Hal ini dikarenakan penelitian ini untuk menyelidikikeadaan atau kondisi data berupa kata-kata, yaitu kata-kata yang ada dalam teks cerita pendek karya siswa SMPN 1 Pangkalan Bun kelas VII secara apa adanya.



2.      Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti di lapangan dalam penelitian kualitatif menurut Miles dan Huberman (1992) adalah suatu yang mutlak, karena peneliti bertindak sebagai instrumen penelitian sekaligus pengumpul data. Keuntungan yang didapat dari kehadiran peneliti sebagai instrumen adalah subjek lebih tanggap akan kehadiran peneliti, peneliti dapat menyesuaikan diri dengan setting penelitian, keputusan yang berhubungan dengan penelitian dapat diambil dengan cara cepat dan terarah, demikian juga dengan informasi dapat diperoleh melalui sikap dan cara informan dalam memberikan informasi.
Pengamatan terhadap sarana dan prasarana, aktifitas manajemen dalam implementasi juga dilakukan selama periode tersebut. Menurut Sugiyono (2011:306), peneliti kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas temuannya. Menurut Nasution (dalam Sugiyono, 2011:307-308), kehadiran peneliti sebagai instrumen penelitian serasi untuk penelitian kualitataif itu sendiri karena memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Peneliti sebagai instrumen dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungan yang harus diperkirakan bermakna atau tidak bagi penelitian.
b.      Peneliti sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus.
c.       Tiap situasi merupakan keseluruhan. Tidak ada suatu instrument yang dapat menangkap keseluruhan situasi kecuali manusia.
d.      Suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia, tidak dapat dipahami dengan pengetahuan semata, namun perlu sering merasakannya, menyelaminya berdasarkan pengetahuan kita.
e.       Hanya manusia sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan berdasarkan data yang dikumpulkan pada suatu saat dan menggunakan segera sebagai balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan, perbaikan atau perelakan.
3.      Instrumen Penelitian
Menurut Arikunto (2013: 262), instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan dalam mengumpulkan data. Dalam penelitian ini yang menjadi instrumen penelitian adalah peneliti itu sendiri. Menurut Moleong (2007: 168) yang dimaksud peneliti itu sendiri atau manusia sebagai instrumen penelitian adalah peneliti sekaligus merupakan perencana, pelaksanaan, pengumpulan data, analisis, penafsiran data, dan akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian.
4.      Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dalam berbagai setting, sumber, dan cara. Bila dilihat dari sumber datanya, pengumpulan data dapat menggunakan dua sumber, yaitu sumber primer dan sumber sekunder(Sugiyono, 2011:308). Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data.
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan penelitian adalah mendapatkan data. Selanjutnya jika dilihat dari cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara: observasi (pengamatan), wawancara (interview), dan dokumentasi atau gabungan semuanya (Sugiyono, 2011:309). Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 3 (tiga) teknik, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi.
5.      Data dan Sumber
Menurut Arikunto (2013: 172), sumber data adalah subjek dimana data dapat diperoleh. Sumber data penelitian adalah teks cerita pendek karya siswa kelas VII SMPN 1 Pangkalan Bun. Peneliti memilih teks cerita pendek menjadi sumber data karena sesuai dengan materi pembelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013 Edisi Revisi kelas VII. Data penelitian berbentuk tulisan berupa kalimat dalam teks cerita pendek  yang mengandung kesalahan kalimat.
6.      Teknik Analisis Data
Analisis data kualitatif merupakan upaya yang dilakukan dengan cara bekerja dengan data, mengorganisasikan data, mencari dan menemukan pola, menemukan yang paling penting dan dipelajari, serta memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain (Moleong, 2012: 248).
Metode yang digunakan peneliti dalam upaya menentukan kaidah tahap analisis data adalah metode padan ortografis. Metode padan adalah metode yang alatnya berada di luar, terlepas dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan. Sedangkan ortografis adalah subjenis metode padan yang penentunya berupa tulisan (Sudaryanto, 2015: 15). Alat penentu dalam penelitian adalah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, teori Hasan Alwi, dkk. (2008), dan teori Sri Hapsari Wijayanti (2013) mengenai kalimat. Menurut langkah analisis data Miles dan Huberman (1984) yang dilakukan oleh peneliti, yaitu :
a.       Reduksi Data
Pada tahap reduksi data, peneliti mencatat dan mengklasifikasi data berdasarkan jenis kesalahannya. Selanjutnya, peneliti memberikankode pada setiap data. Setelah memberi kode, peneliti menganalisis kesalahan kalimat berdasarkan kelengkapan unsur, keefektifan kalimat, dan kalimat ambigu. Terakhir, peneliti memberikan pembetulan dalam kalimat.
b.      Penyajian Data
Pada tahap penyajian data, peneliti menyajikan data dalam bentuk tabel.
c.       Verifikasi Kesimpulan
Untuk menjamin tingkat kepercayaan dan keabsahan hasil penelitian, peneliti melanjutkan proses analisis dengan triangulasi data yang dilakukan oleh ahli analisis kesalahan berbahasa.

7.      Triangulasi
Dalam teknik triangulasi menggunakan reduksi data peneliti. Triangulasi sebagai teknik untuk mengecek keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moloeng, 2004:330).
Triangulasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknik yang berbeda (Nasution, 2003:115) yaitu wawancara, observasi dan dokumen. Triangulasi ini selain digunakan untuk mengecek kebenaran data juga dilakukan untuk memperkaya data. Menurut Nasution, selain itu triangulasi juga dapat berguna untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti terhadap data, karena itu triangulasi bersifat reflektif.
Menurut Denzin (dalam Moloeng, 2004), membedakan empat macam triangulasi diantaranya dengan memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Pada penelitian ini, dari keempat macam triangulasi tersebut, peneliti hanya menggunakan teknik pemeriksaan dengan memanfaatkan sumber. Triangulasi dengan sumber artinya membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif (Patton,1987:331). Adapun untuk mencapai kepercayaan itu, maka ditempuh langkah sebagai berikut :
a.       Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
b.      Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.
c.       Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.
d.      Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan masyarakat dari berbagai kelas.
e.       Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lain. Model triangulasi diajukan untuk menghilangkan dikotomi antara pendekatan kualitatif dan kuantitatif sehingga benar-benar ditemukan teori yang tepat. Menurut Murti B. (2006) menyatakan bahwa tujuan umum dilakukan triangulasi adalah untuk meningkatkan kekuatan teoritis, metodologis, maupun interpretatif dari sebuah riset. Dengan demikian triangulasi memiliki arti penting dalam menjembatani dikotomi riset kualitatif dan kuantitatif, sedangkan menurut Yin R.K, 2003 menyatakan bahwa pengumpulan data triangulasi (triangulation) melibatkan observasi, wawancara dan dokumentasi.










BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi uraian tentang deskripsi data, hasil analisis data, dan pembahasan. Pada bagian deskripsi data, peneliti menggambarkan bentuk data yang akan diteliti. Pada bagian hasil analisis data, peneliti mengungkapkan data secara apa adanya dengan disertai contoh analisis data tersebut. Pada bagian pembahasan, peneliti menguraikan pembahasan hasil analisis data yang diperoleh dan dihubungkan dengan teori penelitian untuk memperoleh pemahaman.
1.      Deskripsi Data
Berdasarkan langkah-langkah penelitian pada Bab III, peneliti menyajikan data kesalahan kalimat dalam teks cerita pendek karya siswa kelas VII SMPN 1 Pangkalan Bun. Penelitian kesalahan kalimat dibatasi pada tiga  jenis, yaitu a) kekurangan unsur kalimat, b) kalimat ambigu, dan c) kalimat tidak efektif.
Data yang terkumpul berupa data kesalaahan kalimat yang terdapat dalam lima belas teks cerita pendek. Penulisan teks cerita pendek didasarkan pada tema “Persahabatan”, peneliti menemukan 155 kesalahan dalam kalimat. Sebagian besar kalimat mengandung kesalahan kalimat tidak efektif  dan hanya ada beberapa yang mengandung kesalahan kekurangan unsur kalimat dan kalimat ambigu. Berikut tabel jumlah kesalahan yang terdapat pada masing-masing teks cerita pendek.











Kode Cerpen (C)
Kesalahan Kalimat
Kekurangan Unsur Kalimat
Kalimat Ambigu
Kalimat Tidak Efektif
C1
2
1
10
C2
1
9
C3
10
C4
1
6
C5
C6
2
3
C7
11
C8
4
C9
1
5
C10
3
3
C11
1
22
C12
1
8
C13
3
9
C14
1
1
7
C15
7
JUMLAH
13
5
114

2.      Hasil Analisis Data
Data dikelompokkan berdasarkan kategori kesalahannaya, secara garis besar analisis dibatasi dalam kategori kekurangan unsur kalimat, kalimat ambigu dan kalimat tidak efektif. Analisis kesalahan susunan kalimat hanya dilakukan pada kalimat tidak langsung, karena bentuk kalimat langsung merupakan bentuk tertulis dari percakapan jadi tidak terpaku pada kaidah penulisan kalimat yang baik.
1)      Kekurangan Unsur Kalimat
a.       Kekurangan Unsur Subjek
Contoh kalimat yang mengandung kekurangan unsur subjek adalah:
·         Menurutnya lebih irit dan praktis tentunya. (C1 (7))
·         Yaitu tradisi anak baru harus mentraktir seniornya kalau sudah gajian nanti. (C1 (15))
Kalimat di atas mengandung kekurangan unsur subjek dan dapat dilihat dalam data untuk membuktikannya. Pembetulan kalimat di atas adalah:
·         Menurut dia hal itu lebih irit dan praktis tentunya.
·         Tradisi bagi anak baru yaitu harus mentraktir seniornya kalau sudah gajian nanti.
b.      Kekurangan Unsur Subjek dan Predikat
Contoh kalimat yang mengandung kekurangan unsur subjek dan predikat adalah sebagai berikut :
·         Seperti biasa, dengan kedua sahabatku. Namanya Dani dan Maya.(C10 (2))
·         Bukan untuk bermain tetapi untuk salat tarawih bersama. (C13 (16))
Kalimat di atas mengandung unsur keterangan dan kalimat yang baik harus mengandung unsur subjek dan predikat. Pembetulan kalimat di atas adalah sebagai berikut:
·         Seperti biasa, aku bersama kedua sahabatku. Namanya Dani dan Maya.
·         Mereka berkumpul bukan untuk bermain, melainkan untuk salat tarawih bersama.
c.       Kekurangan Unsur Objek
Contoh kalimat yang mengandung kekurangan unsur objek adalah sebagai berikut:
·         Tiba dimana uts akan segera diadakan, entah kenapa mereka bertiga dengan tiba-tiba minta maaf ke Dwi, Dwi memaafkan dan mereka bertiga dengan harapan tidak akan terjadi lagi peristiwa yang dulu. (C11 (27))
Kalimat di atas kekurangan unsur objek, padahal pada predikat kalimat itu transitif (predikat yang diikuti objek). Kata hubung dan sebaiknya dihilangkan supaya kalimat menjadi berobjek. Pembetulan kalimat di atasadalah sebagai berikut:
·         Tiba dimana uts akan segera diadakan, entah kenapa mereka bertiga dengan tiba-tiba minta maaf ke Dwi, Dwi memaafkan mereka bertiga dengan harapan tidak akan terjadi lagi peristiwa yang dulu.
2)      Kalimat Ambigu
Terdapat beberapa kalimat di dalam teks cerita pendek yang mengandung makna ganda. Contoh kalimatnya sebagai berikut.
a.       Aturan mainnya yang kalah mukanya harus dicoretin pakai spidol. (C1 (12))
Kalimat ambigu pada bagian yang kalah mukanya harus dicoretin.
Kalimat memiliki dua makna, yaitu :
·         ......yang kalah, mukanya harus dicoretin......
·         ......yang kalah mukanya, harus dicoretin......
b.      Sesampainya di rumah, betapa sangat terkejutnya Dini, karena Dian sahabatnya yang katanya akan pindah ke luar kota pada hari ini berada di halaman depan rumahnya sambil membawa hadiah. (C2 (14))
Kalimat ambigu pada bagian Dian sahabatnya yang katanya akan pindah ke luar kota pada hari ini berada di halaman .
Kalimat memiliki dua makna, yaitu:
·         .............Dian sahabatnya yang katanya akan pindah ke luar kota pada hari ini, berada di halaman depan rumahnya.
·         .............Dian sahabatnya yang katanya akan pindah ke luar kota, pada hari ini berada di halaman depan rumahnya.
c.       Namun pada hari ini sahabatnya Ika tak pernah kelihatan lagi, hampir sudah 3 minggu ini. (C14 (5))
Kalimat ambigu pada bagian sahabatnya Ika , karena dapat memiliki dua makna, yaitu:
·         Sahabatnya yang bernama Ika.
·         Sahabat dari Ika.
Pembetulan kalimat supaya tidak ambigu adalah sebagai berikut.
a)      Aturan mainnya, yang kalah, mukanya harus dicoretin pakai spidol.
b)      Sesampainya di rumah, betapa sangat terkejutnya Dini karena Dian sahabatnya berada di halaman rumahnya sambil membawa hadiah.
c)      Namun pada hari ini, sahabatnya, Ika, tidak pernah kelihatan lagi, hampir tiga minggu ini.

3)      Kalimat Tidak Efektif
Terdapat beberapa kalimat di dalam cerita pendek yang tidak efektif. Contoh kalimat yang tidak efektif adalah sebagai berikut:
a.       Semua teman-teman pada ngirit, sampai makan pun apa adanya. (C1 (8))
b.      Saat sampai di rumahnya aku mendapat kabar bahwa Intan sakit dan sudah lama dirawat, dari rumah sakit Intan juga tidak jauh dari rumahnya. (C7 (16))
c.       Sudah beberapa kali Dewy mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari dalam rumahnya, kemudian tiba-tiba muncul orang dari sebelah rumah. (C14 (9))
Kalimat tersebut termasuk kalimat yang tidak efektif. Kalimat (a) termasuk kalimat tidak efektif karena tidak memenuhi ciri kalimat efektif yaitu kehematan. Kalimat (b) termasuk kalimat tidak efektif karena tidak memenuhi ciri kalimat efektif yaitu keringkasan dan ketepatan diksi. Kalimat (c) termasuk kalimat tidak efektif karena tidak memenuhi ciri kalimat efektif yaitu keringkasan.
Pembetulan kalimat di atas sebagai berikut:
a)      Teman-teman pada ngirit sampai makan pun apa adanya.
b)      Saat sampai di rumahnya, aku mendapat kabar bahwa Intan sakit dan sudah lama dirawat di rumah sakit Intan juga tidak jauh dari rumahnya.
c)      Sudah beberapa kali Dewy mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari dalam rumahnya. Tiba-tiba muncul orang dari sebelah rumah.
3.      Pembahasan
Setelah melakukan proses analisis data pada lima belas teks cerita pendek karya siswa kelas VII SMPN 1 Pangkalan Bun, peneliti menemukan 155 kesalahan yang terkandung dalam kesalahan kalimat. Pada bagian pembahasan, peneliti akan menguraikan hasil analisis data yang mencakup kesalahan kalimat.
1)      Pembahasan Kesalahan Kalimat
Berdasarkan analisis data, ditemukan tiga jenis kesalahan kalimat. Kesalahan yang ditemukan meliputi (a) kekurangan unsur kalimat, (b)kalimat ambigu, dan (c) kalimat tidak efektif.
Kesalahan kalimat yang paling banyak ditemukan pada teks cerita pendek karya siswa kelas VII SMPN 1 Pangkalan Bun adalah kalimat tidak efektif. Kesalahan kalimat yang tidak efektif terjadi karena siswa masih bertele-tele dalam menyusun kalimat. Hal itu didasarkan pada pendapat Wijayanti (2015: 68-75) menyatakan bahwa salah satu ciri dari kalimat efektif yaitu keringkasan (menggunakan kata yang ringkas).
Kesalahan kalimat kedua yaitu kekurangan unsur kalimat. Penemuan kekurangan unsur kalimat dilandasi oleh teori Hasan Alwi dkk. (2008) dan Sri Hapsari Wijayanti (2013). Keduanya memaparkan unsur pembangun yang wajib hadir adalah unsur subjek dan predikat. Di samping itu, ada kalimat yang memiliki unsur objek, pelengkap dan keterangan yang kehadirannya tidak wajib. Dalam analisis ddata, ditemukan kalimat yang tidak memiliki subjek dan predikat. Berdasarkan teori yang digunakan, kalimat yang tidak mengandung unsur subjek dan predikat merupakan kalimat tidak tepat.
Kesalahan kalimat yang ditemukan selanjutnya adalah kalimat ambigu. Peneliti menemukan lima kesalahan kalimat ambigu dan penentuan kalimat ambigu didasarkan pada pendapat Nanik Setyawati (2013: 85).

Tingginya tingkat kesalahan kalimat yang dilakukan oleh siswa kelas VII SMPN 1 Pangkalan Bun diperkiraan karena adanya beberapa faktor diantaranya adalah ketidakcermatan siswa ketika menulis dan kurangnya pemahaman siswa terhadap kaidah penulisan. Selain itu, kurangnya motivasi menulis cerpen sebagai penyebab terjadinya kesalahan. Kurangnya motivasi mengakibatkan siswa tidak bersungguh-sungguh menulis cerpen.
Pemahaman terhadap kaidah penulisan dapat ditingkatkan melalui latihan menulis karangan yang diberikan oleh guru. Latihan menulis karangan yang diberikan sebaiknya menggunakan tema yang menarik bagi siswa sehingga siswa akan lebih tertarik untuk menulis. Selanjutnya guru mengoreksi dan memberikan komentar mengenai kalimat yang telah disusun oleh siswa. Hal itu akan membuat siswa lebih tahu letak kesalahan dan dapat memperbaikinya. Selain itu, proses pembelajaran menulis seharusnya dikemas dalam kegiataan menarik sehingga siswa tidak terasa jenuh dan malas untuk menulis.




DAFTAR RUJUKAN
Alwi, Hasan dkk.2008.Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Arikunto, Suharsimi.2013.Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Depdikbud.1995. Kurikulum IKIP Bandung 1993. Bandung: IKIP Bandung.
Gunawan, Imam.2013.Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik. Jakarta : Bumi Aksara.
Kridalaksana, Harimurti.2008.Kamus Linguistik Edisi Empat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kuntarto, Ninik M.2007.Cermat Teliti dalamBerbahasa Berpikir. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Mahsun.2012.Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: Rajawali Pers.
Milles, M.B. and Huberman, M.A.1984.Qualitative Data Analysis . London: Sage Publication.
Moleong, Lexy J.2012.Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nurgiyantoro, Burhan.2007.Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Razak, Abdul.1990. Kalimat Efektif. Jakarta: Gramedia.
Setyawati, Nanik.2013.Analisis Kesalahan Berbahasa Indonsia : Teori dan Praktik. Surakarta: Yuma Pustaka.
Soedjito dan Djoko Saryono.2014.Tata Kalimat Bahasa Indonesia. Malang: Aditya Media Publishing.
Sudaryanto.2015.Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta : Diandra Primamitra.
Sumardjo, Jakob.2007.Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Tarigan, Djago & Lilis Siti Sulistyaningsih.1996/1997.Analisis Kesalahan Berbahasa. Jakarta: Depdikbud Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III.
Tarigan, Henry Guntur.1988.Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Widjono, Hs.2005.Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta :Grasindo.
Wijayanti, Sri Hapsari.2015.Bahasa Indonesia : Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.


























BAB IV
Penutup

A.    Kesimpulan
Berdasarkan analisis data dan pembahasan, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam teks cerita pendek karya siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pangkalan Bun masih ditemukan kesalahan kalimat.Peneliti menemukan 3 kesalahan kalimat meliputi 1) kekurangan unsur kalimat, 2) kalimat tidak efektif, dan 3) kalimat ambigu.Kesalahan kalimat yang paling banyak dilakukan oleh siswa adalah kekurangan unsur kalimat dan kalimat tidak efektif.
B.     Saran




















LAMPIRAN
ANALISIS DATA
No
Data
Analisis Kesalahan Kalimat
Keterangan
1.
"Kangen, itu yang kurasakan saat ini setelah hampir 4 tahun lamanya aku tidak pernah bertemu lagi dengan sahabat-sahabat istimewaku. (C1)
Kalimat Tidak Efektif
Kata lamanya sebaiknya dihilangkan karena empat tahun sudah pasti waktu yang lama. Pembetulan :  Kangen, itu yang kurasakan saat ini setelah hampir 4 tahun aku tidak bertemu dengan sahabat-sahabat istimewaku.
2.
Mbak Indra biasanya yang sering memasak nasi untuk kami, sementara kami hanya tinggal beli lauknya saja di warung terdekat. (C5)
Kalimat Tidak Efektif
Tidak memenuhi ciri kalimat efektif yaitu kehematan. Pembetulan : Biasanya mbak Indra memasak nasi untuk kami, sementara kami hanya membeli lauknya di warung terdekat.
3.
Sampai-sampai yang masak pun tidak kebagian nasi. (C6)
Kalimat Tidak Efektif
Kalimat tidak efektif karena sampai-sampai seharusnya tidak diletakkan pada awal kalimat. Pembetulan :Yang masak pun tidak kebagian nasi.





4.
Menurutnya lebih irit dan praktis tentunya. (C7)
Tanpa Unsur Subjek dan Kalimat Tidak Efektif
Kalimat tidak efektif karena tidak ada subjek. Sebaiknya ditambah dengan hal itu supaya kalimat menjadi bersubjek. Pembetulan : Menurut dia hal itu lebih irit dan praktis tentunya.
5.
Semua teman-teman pada ngirit, sampai makan pun seadanya. (C8)
Kalimat Tidak Efektif
Kata teman-teman sudah menunjukkan bentuk jamak jadi kata semua seharusnya dihilangkan supaya lebih efektif. Pembetulan : Teman-teman pada ngirit, sampai makan pun seadanya.
6.
Tak tahunya yang dibelinya justru  molen dan pisang goreng. (C9)
Kalimat Tidak Efektif
Kalimat tidak efektif karena mengulang kata ganti nya. Pembetulan : Tak tahunya makanan yang dibeli adalah molen dan pisang goreng.
7.
Aku dan teman-teman yang lain sampai ketawa gara-gara Lia salah  beli gorengan. (C10)
Kalimat Tidak Efektif
Kata ketawa lebih tepat jika diganti dengan tertawa. Pembetulan : Aku dan teman-teman yang lain tertawa gara-gara Lia salah beli gorengan.
8.
Aturan mainnya yang kalah mukanya harus dicoretin pakai spidol. (C12)
Kalimat Ambigu
Kalimat memiliki dua makna, yaitu : a)  ......yang kalah, mukanya harus dicoretin...... ; b) ......yang kalah mukanya, harus dicoretin...... . Pembetulan :  Aturan mainnya, yang kalah, mukanya harus dicoretin pakai spidol.
9.
Dan kenangan yang satu ini pasti selalu ku ingat sekarang. (C14)
Kalimat Tidak Efektif
Kata ku ingatseharusnya ditulis kuingat. Pembetulan : Kenangan yang satu ini pasti selalu kuingat sekarang.
10.
Yaitu tradisi bagi anak baru harus mentraktir seniornya kalau sudah gajian nanti. (C15)
Tanpa Unsur Subjek dan Kalimat Tidak Efektif
Kalimat tidak efektif karena tidak mengandung subjek. Kata yaitu seharusnya diletakkan setelah kata baru. Pembetulan : Tradisi bagi anak baru yaitu harus mentraktir seniornya kalau sudah gajian nanti.









Komentar