Laporan Penelitian Analisis Kesalahan Berbahasa
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Bahasa adalah alat komunikasi yang paling efektif.
Dengan demikian, bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari dari
kehidupan manusia. Dengan bahasa, manusia dapat berinteraksi satu sama lain.
Hal itu sejalan dengan pendapat dari Chaer (2011:2) mengatakan bahwa fungsi
bahasa adalah sebagai alat untuk bekerja sama atau berkomunikasi dalam
kehidupan masyarakat.
Bahasa dapat dikuasai seseorang melalui dua cara,
yaitu pemerolehan dan pembelajaran. Pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa
pertama (Chaer, 2009: 167), sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan
bahasa kedua dan lebih mengacu pada pendidikan formal (Chaer, 2009: 242). Penguasaan
bahasa didapat dari proses pemerolehan perlu ditunjang dengan pemerolehan
bahasa. Melalui pembelajaran bahasa, seseorang akan mendapat pengettahuan
tentang kaidah pemakaian bahasa untuk kepentingan lebih formal.
Sebagai salah satu keterampilan berbahasa, menulis
digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung atau tidak secara tatap
muka dengan orang lain. Menulis merupakan salah satu kegiatan yang harus
dilakukan oleh siswa dalam proses pembelajaran. Melalui kegiatan menulis, siswa
menjadi lebih aktif dan kreatif karena siswa dapat menciptakan suatu karya yang
baru dan mengemukakan ide yang dimiliki melalui tulisan dengan menggunakan gaya
bahasa sendiri. Menulis sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan siswa
dalam menggunakan bahasa.
Salah satu keterampilam menulis yang diajarkan di
sekolah adalah menulis teks cerpen. Teks cerita pendek diartikan sebagai sebuah
karya fiksi yang dapat selesai dibaca hanya sekali duduk. Keterampilan menulis
teks cerita pendek harus dikuasai oleh siswa kelas VII SMPN 1 Pangkalan Bun
karena salah satu materi yang terdapat dalam Kompetensi Dasar pada Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan. Teks cerita pendek sangat menarik bagi siswa karena
tema-tema yang biasa diangkat dalam cerita berkaitan dengan kehidupan di
lingkungan sekitar, contohnya mengenai persahabatan.
Meskipun keterampilan menulis telah diajarkan di SMPN
1 Pangkalan Bun , kesalahan berbahasa dalam penulisan masih sering dijumpai
dalam hasil karya siswa. Hal itu disebabkan oleh banyak siswa yang menganggap
menulis merupakan hal yang sulit sehingga mereka malas untuk belajar menulis.
Contoh kesalahan yang pernah terjadi adalah penggunaan subjek, objek, predikat,
dan keterangan dalam menyusun kalimat.
Berdasarkan uraian singkat di atas, peneliti
bermaksud melakukan penelitian mengenai kesalahan kalimat yang terdapat dalam
cerpen siswa SMP. Peneliti ingin mengetahui apa saja jenis kesalahan berbahasa
yang sering dilakukan oleh siswa.
2. Rumusan Masalah dan Tujuan
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di
atas, peneliti merumuskan masalah yang akan diteliti :
a.
Bagaimana kesalahan
menyusun kalimat efektif yang terdapat dalam teks cerpen siswa SMPN 1 Pangkalan
Bun?
b.
Adakah letak
kesalahan pada unsur kalimat yang terdapat dalam teks cerpen siswa SMPN 1
Pangkalan Bun?
c.
Adakah kesalahan
pada kalimat ambiguitas yang terdapat dalam teks cerpen siswa SMPN 1 Pangkalan
Bun?
Berdasarkan rumusan
masalah tersebut, tujuan penelitian mencari solusi dalam memecahkan masalah
yaitu :
a)
Untuk mengetahui
kesalahan dalam menyusun kalimat efektif yang terdapat dalam teks cerpen siswa
SMPN 1 Pangkalan Bun.
b)
Untuk mengetahui
letak kesalahan pada unsur kalimat yang terdapat dalam teks cerpen siswa SMPN 1
Pangkalan Bun.
c)
Untuk mengetahui
kesalahan pada kalimat ambiguitas yang terdapat dalam teks cerpen siswa SMPN 1 Pangkalan
Bun.
3.
Kegunaan
Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat
bagi guru, mahasiswa, dan peneliti selanjutnya. Adapun manfaat penelitian ini
adalah sebagai berikut.
a.
Bagi Guru Mata
Pelajaran Bahasa Indonesia
Penelitian ini dapat memberikan masukan kepada guru
mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk mengetahui kesalahan berbahasa
dalam penyusunan kalimat yang sering dilakukan oleh siswa sehingga guru dapat
membantu siswa untuk memperbaiki kesalahannya.
b.
Bagi Mahasiswa
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Penelitian ini dapat memberikan informasi bagi para
mahasiswa calon guru mengenai beberapa kesalahan berbahasa yang sering terjadi
pada siswa sehingga mereka dapat memberikan pengajaran berbahasa yang lebih
baik.
c.
Bagi Peneliti
Selanjutnya
Penelitian ini dapat memberikan gambaran bagi
peneliti lain untuk dapat mengembangkan penelitian yang sejenis dan
menyempurnakan penelitian ini.
4.
Asumsi
Menurut Surakhmad dalam Endang (2008:7) bahwa asumsi
dasar atau anggapan dasar adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya
di terima oleh penyidik. Jadi asumsi ppenelitian dapat diartikan sebagai
anggapan dasar tentang suatu hal yang menjadi pedoman berfikir peneliti.
Asumsi yang mendasari penelitian ini adalah sebagai berikut :
Asumsi yang mendasari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang
mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan.
b.
Teks
cerita pendek adalah teks yang berupa fiksi
pendek yang selesai dibaca dalam “sekali duduk”, hanya memiliki satu arti, satu
krisis, dan satu efek untuk pembacanya.
5.
Keterbatasan
Penelitian
Keterbatasan penelitian ini dimaksudkan
untuk memberikan gambaran dan arah mengenai informasi permasalahan inti yang
ada dalam suatu penelitian.
è Variabel
penelitian
Dalam penelitian ini ada 2 variabel, yaitu variabel bebas yaitu penggunaan kalimat pada teks cerpen siswa SMPN 1 Pangkalan Bun.
Dalam penelitian ini ada 2 variabel, yaitu variabel bebas yaitu penggunaan kalimat pada teks cerpen siswa SMPN 1 Pangkalan Bun.
è Subjek
penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa.
Subjek penelitian ini adalah siswa.
è Lokasi
Penelitian
Penelitian dilakukan pada sekolah.
Penelitian dilakukan pada sekolah.
6.
Batasan Istilah
Dalam penelitian ini, digunakan beberapa istilah
yang pengertiannya perlu dibatasi. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi
kesalahan dalam penafsiran. Istilah-istilah yang dibatasi pengertiannya sebagai
berikut.
a.
Kesalahan
Berbahasa
Kesalahan berbahasa adalah penggunaan bahasa baik
secara lisan maupun tulisan yang menyimpang dari faktor-faktor penentu
komunikasi atau menyimpang dari norma kemasyarakatan dan menyimpang dari kaidah
tata bahasa Indonesia.
b.
Analisis
Kesalahan Berbahasa
Analisis kesalahan berbahasa yakni suatu prosedur
kerja yang biasa digunakan oleh peneliti dan guru bahasa yang meliputi
pengumpulan sampel, pengidentifikasi kesalahan yang terdapat dalam sampel,
penjelasan kesalahan, pengklasifikasian kesalahan berdasarkan penyebabnya,
serta pengevaluasian taraf keseriusan kesalahan (Tarigan, 1988: 68).
c.
Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa
terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun
tulisan (Wijayanti, 2015: 53).
d.
Kalimat Efektif
Kalimat efektif yaitu kalimat yang singkat, padat,
jelas, lengkap, dan dapat menyampaikan informasi secara tepat. Singkat berarti
penulis hanya menggunakan unsur-unsur yang penting. Padat berarti kalimatnya
sarat informasi dan tidak banyak pengulangan gagasan. Lengkap berarti
mengandung makna kelengkapan struktur kalimat dan kelengkapan gagasan (Widjono,
2005: 148).
e.
Cerita Pendek
Cerita pendek adalah fiksi pendek yang selesai
dibaca dalam “sekali duduk”, hanya memiliki satu arti, satu krisis, dan satu
efek untuk pembacanya (Sumardjo, 2007: 202).
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1.
Pengertian
Kesalahan Berbahasa
Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa kata yang
artinya bernuansa dengan kesalahan yaitu penyimpangan, pelanggaran dan
kekhilafan. Keempat kata dideskripsikan sebagai berikut :
a.
Kata “salah”
diantonimkan dengan “betul”, artinya apa yang dilakukan tidak betul, tidak
menurut norma, tidak menurut aturan yang ditentukan. Hal ni disebabkan oleh
pemakai bahasa yang belum tahu, atau tidak tahu terdapat norma, kemungkinan
yang lain dia khilaf.
b.
“Penyimpangan”
dapat diartikan menyimpang dari norma yang telah ditetapkan. Pemakai bahasa
menyimpang karena tidak mau, enggan, malas mengikuti norma yang ada.
Kemungkinan lain penyimpangan disebabkan oleh keinginan kuat tidak dapat
dihindari karena satu dan lain hal.
c.
“Pelanggaran”terkesan
negatif karena pemakai bahasa dengan penuh kesadaran tidak mau menurut norma
yang telah ditentukan, sekalipun dia mengetahui bahwa yang dilakukan berakibat
tidak baik.
d.
“Kekhilafan”
merupakan proses psikologis yang dalam hal ini menandai seseorang khilaf
menerapkan teori atau norma bahasa yang ada pada dirinya, khilaf mengakibatkan sikap
keliru memakai. Kekhilafan dapat diartikan kekeliruan. Kemungkinan salah ucap,
salah susun karena kurang cermat.
Apa yang dimaksud kesalahan berbahasa? Terdapat dua
jawaban atas pertanyaan tersebut, yaitu :
1)
Berkaitan dengan
faktor-faktor penentu dalam komunikasi. Faktor penentu dalam komunikasi, yakni:
siapa yang berbahasa dengan siapa, untuk tujuan apa, dalam situasi apa (tempat
dan waktu), dalam konteks apa (peserta lain, kebudayaan, dan suasana), dengan
jalur apa (lisan atau tulisan), dengan media apa (tatap muka, telepon, surat,
kawat, buku, koran dan sebagainya), dalam peristiwa apa (bercakap-cakap,
ceramah, upacara, laporan, lamaran kerja, pernyataan cinta, dan sebagainya),
dan
2)
Berkaitan dengan
aturan atau kaidah kebahasaan yang dikenal dengan istilah tata bahasa.
(Depdikbud, 1995)
Jadi, kesalahan
berbahasa adalah penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tulisan yang
menyimpang dari faktor-faktor penentu komunikasi atau menyimpang dari norma
kemasyarakatan dan menyimpang dari kaidah tata bahasa Indonesia.
2.
Penyebab
Kesalahan Berbahasa
Penyebab kesalahan berbahasa ada pada orang yang
menggunakan bahasa yang digunakannya. Ada tiga kemungkinan penyebab seseorang
dapat salah dalam berbahasa, antara lain:
1)
Terpengaruh
bahasa yang lebih dahulu dikuasainya. Bahwa kesalahan bahasa disebabkan oleh
interferensi bahasa ibu atau bahasa pertama (B1) terhadap bahasa kedua (B2)
yang sedang dipelajari si pembelajar (siswa). Dengan kata lain sumber kesalahan
terletak pada perbedaan sistem linguistik B1 dengan B2.
2)
Kekurangpahaman
pemakai bahasa terhadap bahasa yang dipakainya. Dengan kata lain, salah atau
keliru menerapkan kaidah bahasa. Misalnya, kesalahan generalisasi, aplikasi
kaidah bahasa secara tidak sempurna, dan kegagalan mempelajari kondisi
penerapan kaidah bahasa. Kesalahan ini disebabkan oleh : a) penyamarataan
berlebihan, b) ketidaktahuan pembatasan kaidah, c) penerapan kaidah yang tidak
sempurna, dan d) salah menghipotesiskan konsep.
3)
Pengajaran
bahasa yang kurang tepat atau kurang sempurna. Berkaitan dengan bahan yang
diajarkan dan cara pelaksanaan pengajaran. Bahan pengajaran menyangkut masalah
sumber, pemilihan, penyusunan, pengurutan, dan penekanan. Cara pengajaran
menyangkut masalah pemilihan teknik penyajian, langkah-langkah dan urutan
penyajian, intensitas dan kesinambungan pengajaran, dan alat-alat bantu dalam
pengajaran.
3.
Pengertian
Analisis Kesalahan Berbahasa
Kesalahan berbahasa dianggap sebagai bagian dari
proses belajar mengajar, baik belajar secara formal maupun informal. Pengalaman
guru di lapangan menunjukkan bahwa kesalahan berbahasa tidak hanya dibuat oleh
siswa yang mempelajari B2, tetapi oleh siswa yang mempelajari B1. Siswa yang
mempelajari bahasa Indonesia atau bahasa Inggris sering berbuat kesalahan
berbahasa baik secara lisan maupun tulis. Siswa SD yang mempelajari bahasa ibu
seperti bahasa Batak, bahasa Bali, bahasa Sunda, bahasa Jawa, atau bahasa daerah
lainnya sering membuat kesalahan bahasa dalam proses belajar-mengajar bahasa
Batak, bahasa Bali, bahasa Sunda, bahasa Jawa, atau bahasa daerah lainnya.
Kesalahan berbahasa terjadi oleh siswa dalam suatu
proses belajar mengajar mengimplikasikan tujuan pengajaran bahasa belum
tercaapai secara maksimal. Semakin tinggi kuantitas kesalahan berbahasa,
semakin sedikit tujuan pengajaran bahasa yang tercapai. Kesalahan berbahasa
yang dilakukan oleh siswa harus dikurangi sampai ke batas minimal, bahkan
diusahakan dihilangkan sama sekali. Hal ini dapat tercapai jika guru pengajar
bahasa telah mengkaji secara mendalam segaala aspek kesalahan berbahasa.
Menurut Ellis (Tarigan, 1988) bahwa terdapat lima
langkah kerja analisis bahasa, yaitu :
1.
Mengumpulkan
sampel kesalahan
2.
Mengidentifikasi
kesalahan
3.
Menjelaskan
kesalahan
4.
Mengklasifikasi
kesalahan
5.
Mengevaluasi
kesalahan
Berdasarkan langkah kerja tersebut, dapat disusun
pengertian analisis kesalahan berbahasa. Analisis kesalahan berbahasa yakni
suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh peneliti dan guru bahasa yang
meliputi pengumpulan sampel, pengidentifikasi kesalahan yang terdapat dalam
sampel, penjelasan kesalahan, pengklasifikasian kesalahan berdasarkan
penyebabnya, serta pengevaluasian taraf keseriusan kesalahan (Tarigan, dkk,
1996/1997: 25).
4.
Kesalahan dalam
Bidang Kalimat
1.
Menurut Widjono
(2005: 154), kalimat adalah satuan bahasa yang terkecil yang merupakan kesatuan
pikiran. Menurut Kridalaksana (2008: 103), kalimat ialah satuan bahasa yang
berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual maupun
potensial terdiri dari klausa.
Menurut Hasan Alwi, dkk. dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, kalimat adalah satuan bahasa berupa kata atau
rangkaian kata yang dapat berdiri sendiri dan menyatakan makna yang lengkap.
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh,
baik dengan cara lisan maupun tulisan. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan
dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan
intonasi akhir. Sedangkan dalam wujud tulisan berhuruf latin, kalimat dimulai
dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?) dan
tanda seru (!); sementara itu di dalamnya disertai dengan tanda koma (,), tanda
titik dua ( : ), tanda pisah (-) dan spasi.
Dari beberapa pengertian di atas
lebih mengacu pada pengertian kalimat yang dikemukakan oleh Alwi dkk., karena
dijelaskan bahwa kalimat adalah satuan bahasa terkecil mencakup lisan dan
tulisan.
a)
Fungsi Unsur
Kalimat
Kalimat minimal terdiri atas dua unsur wajib yaitu
unsur subjek dan predikat. Di samping itu, ada juga yang bersifat tidak wajib
yakni unsur objek, pelengkap, dan keterangan (Wijayanti, 2015: 54). Berikut
dijelaskan unsur-unsur didalam kalimat :
·
Subjek
Menurut Wijayanti (2015: 54), subjek (S) adalah
bagian kalimat yang menandai apa yang dinyatakan oleh penulis. Subjek
berkategori nomina (N), frasa nominal (FN), verba (V), atau frasa verba (FV). Contoh
sebagai berikut :
a.
Harimau
adalah binatang liar
S-N
b.
Adik saya belum makan
S-FN
c.
Menyanyi
hobi saya
S-V
d.
Menyaksikan kisah sukses seseorang
S-FV
menginspirasi
seseorang.
Ciri-ciri
subjek menurut Kuntarto (2007: 146) adalah sebagai berikut.
a.
Mengajukan
pertanyaan yang menggunakan kata tanya (Apa/Siapa (yang))..... dengan predikat
sebagai tumpuan,
b.
Disertai kata
penujuk,
c.
Didahului kata bahwa,
d.
Tidak didahului
kata depan, dan
e.
Ditandai dengan
keterangan yang.
·
Predikat
Predikat (P) adalah bagian kalimat yang menjelaskan
subjek. Predikat biasanya berkategori verba (V), frasa verbal (FV), adjektiva
(Adj), frasa adjektival (FAdj), frasa numeral/frasa bilangan, frasa
preposisional/frasa depan, dan frasa nominal (FN) (Alwi dkk, 2008: 326).
Contohnya sebagai berikut :
1.
Kemal tidur.
P-V
2.
Kemal sedang
tidur.
P-FV
3.
Teman saya dua
orang.
P-Fbilangan
4.
Saya mahasiswa.
P-N
5.
Saya mahasiswa
Sanata Dharma.
P-FN
6.
Ibu ke pasar.
P-Fprep
7.
Suamiku ganteng.
P-FAdj
8.
Adikku cantik
sekali.
P-Fadj
Ciri-ciri
Predikat :
a.
Dapat diketahui
dengan mengajukan pertanyaan apa dan bagaimana subjek.
b.
Dapat
diingkarkan dengan tidak atau bukan. Tidak diikuti bentuk verba atau adjektiva, sedangkan bukan diikuti nomina. Jika subjek
kalimat panjang sehingga batas antara subjek dengan predikat tidak jelas,
predikat dapat didahului adalah, ialah, atau
merupakan, tetapi bukan yaitu.
c.
Dapat didahului akan, sudah, sedang, selalu, atau hampir.
d.
Dapat didahului sebaiknya, seharusnya, atau seyogianya.
·
Objek
Objek (O) adalah unsur kalimat yang wajib hadir
setelah verba transitif pada kalimat aktif (ditandai dengan –kan, -i, meN-) (Wijayanti, 2015: 58).
Contohnya sebagai berikut:
1.
Aji mencintai aku
sepenuh hati.
O
Ciri-ciri
objek :
a.
Berkategori
nomina (N) atau frasa nominal (FN).
b.
Dapat menjadi
subjek dalam kalimat pasif.
c.
Tidak didahului
kata depan.
·
Pelengkap
Pelengkap (Pel) atau komplemen, seperti objek, hadir
setelah verba. Namun, pelengkap dan objek memiliki perbedaan yang jelas.
Pelengkap dalam kalimat tidak dapat menjadi subjek jika kalimat tersebut
dipasifkan. Predikat yang diikuti pelengkap adalah kata yang berimbuhan ber-, ter-, ber-an, ber-kan, dan
kata-kata khusus, seperti seperti,
merupakan, berdasarkan, dan menjadi (Alwi
dkk, 2008: 326). Contoh sebagai berikut
:
1.
Indonesia
berlandaskan hukum.
Pel
Ciri-ciri
Pelengkap :
a.
Berkategori
nomina (N), frasa nominal (FN), adjektiva (Adj), frasa adjektival (FAdj), frasa
verba (FV), dan frasa preposisional (FPrep).
b.
Terdapat tepat
di belakang predikat jika tidak ada objek atau di belakang objek jika objek
hadir di dalam kalimat.
c.
Tidak dapat
dijadikan bentuk pasif.
·
Keterangan
Keterangan (K) adalah unsur kalimat yang menambahkan
penjelasan mengenai waktu, cara, sebab, akibat, dan sebagainya. Kehadirannya
bersifat manasuka karena bukan merupakaninti kalimat. Fungsinya meluaskan atau
membatasi makna subjek atau predikat (Alwi dkk, 2008: 326). Contoh sebagai
berikut:
1.
Setiap hari
Senin, kami mengadakan
upacara bendera.
Ket
Ciri-ciri
Keterangan :
a.
Bukan unsur
utama kalimat, tetapi kalimat tanpa keterangan pesan menjadi tidak jelas dan
tidak lengkap.
b.
Tempat tidak
terikat posisi, pada awal, tengah, atau akhir kalimat.
c.
Dapat berupa :
keterangan waktu, tujuan, tempat, sebab, akibat, syarat, cara, posesif (posesif
ditandai kata meskipun, walaupun, atau biarpun), dan pengganti nominal
(menggunakankata bahwa).
b)
Jenis Kalimat
Hasan Alwi (2008: 352-362) menyatakan bahwa jika
dilihat dari bentuk sintaksis, jenis kalimat terbagi menjadi empat yakni :
v Kalimat Deklaratif
Kalimat
deklaratif juga dikenal dengan kalimat berita. Pada umumnya kalimat deklaratif
digunakan oleh pembicara atau penulis untuk membuat pernyataan sehingga isinya
merupakan berita bagi pendengar atau pembacanya.
v Kalimat Imperatif
Kalimat
imperatif merupakan kalimat yang mengandung makna perintah atau larangan.
Kalimat imperatif memiliki ciri formal sebagai berikut:
Ø Intonasi yang ditandai dengan nada rendah di akhir
tuturan.
Ø Pemakaian partikel penegas, penghalus, dan kata
tugas ajakan, harapan, permohonan, serta larangan.
Ø Susunan inversi sehingga urutannya menjadi tidak
selalu terungkap predikat-subjek jika diperlukan.
Ø Pelaku tindakan tidak selalu terungkap.
v Kalimat Interogatif
Kalimat
interogatif dikenal dengan kalimat tanya, secara formal ditandai dengan kata
tanya seperti apa, siapa, dimana, berapa,
kapan dan bagaimana dengan atau
tanpa partikel –kah sebagai penegas.
Kalimat interogatif diakhiri dengan tanda tanya (?) pada bahasa tulis dan
bahasa lisan dengan suara naik.
v Kalimat Eksklamatif
Kalimat
eksklamatif dikenal dengan kalimat seru, secara formal ditandai oleh kata alangkah, betapa, atau bukan main pada kalimat berpredikat
adjektival.
Pembedaan jenis kalimat ini, dapat ditinjau dengan
cara lain yakni ditinjau dari bentuk aktif-pasif, nominal-verbal, langsung-tidak
langsung, dan sebagainya.
c)
Kalimat Efektif
Banyak ahli yang mengemukakan pendapat mengenai
kaliamt efektif. Menurut Abdul Razak (1990: 2) bahwa kalimat dikatakan efektif
apabila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan berlangsung dengan
sempurna. Kalimat yang efektif mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan
tergambar lengkap dalam pikiran si penerima (pembaca) seperti apa yang
disampaikan. Kalimat efektif yaitu kalimat yang singkat, padat, jelas, lengkap,
dan dapat menyampaikan informasi secara tepat. Singkat berarti penulis hanya
menggunakan unsur-unsur yang penting. Padat berarti kalimatnya sarat informasi
dan tidak banyak pengulangan gagasan. Lengkap berarti mengandung makna
kelengkapan struktur kalimat dan kelengkapan gagasan (Widjono, 2005: 148).
Menurut Soedjito (2012: 149), kalimat efektif adalah kalimat yang mengungkapkan
gagasan pemakaian secara tepat dan dapat dipahami secara tepat pula.
Dari ketiga pendapat tersebut, peneliti lebih
mengacu pada pendapat Widjono karena penjabaran mengenai kalimat efektif lebih
jelas dan lengkap. Kalimat dapat dikatakan sebagai kalimat efektif jika
memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a.
Kesatuan gagasan
(hanya mengandung satu gagasan).
b.
Kesepadanan
(keseimbangan gagasan dengan struktur kalimat).
c.
Keparalelan/kesejajaran
(kesamaan bentuk atau makna yang digunakan dalam kalimat).
d.
Kehematan (tidak
mengulang subjek, tidak memakai bentuk subordinat, tidak menggunakan kata
bersinonim).
e.
Kelogisan (dapat
diterima oleh akal sehat).
f.
Kecermatan
(cermat dalam memilih diksi sehingga tidak menimbulkan tafsir ganda).
g.
Kebervariasian
(penggunaan kalimat yang tidak menoton).
h.
Ketegasan
(memberikan penekanan pada ide pokok kalimat).
i.
Ketepatan diksi.
j.
Kebenaran
struktur (mengandung struktur bahasa Indonesia yang baik dan benar).
k.
Keringkasan
(menggunakan kata yang ringkas) (Wijayanti, 2015: 68-75).
2.
Kesalahan
Kalimat
a.
Kekurangan
Unsur Kalimat
Menurut Sri Hapsari Wijayanti
(2013: 54) bahwa subjek dan predikat merupakan unsur wajib dalam kalimat. Jadi,
yang dimaksud dengan kesalahan unsur kalimat yaitu tidak adanya unsur wajib
(subjek dan predikat) dalam kalimat tersebut. Ketidakhadiran unsur-unsur
kalimat akan membuat kalimat tidak dipahami maksudnya.
Ø Kalimat tidak bersubjek
Kalimat paling sedikit harus
terdiri atas subjek dan predikat, kecuali kalimat perintah atau ujaran yang
merupakan jawaban pertanyaan. Biasanya kalimat yang subjeknya tidak jelas
terdapat dalam kalimat rancu, yaitu kalimat yang berpredikat verba aktif
transitif di depan subjek terdapat preposisi. Contoh sebagai berikut.
Di dalam tas itu memuat beberapa
buku.
K P O
Kalimat tersebut merupakan kalimat
tidak bersubjek, karena subjek kalimat aktif didahului preposisi dari, untuk, di dan di dalam. Kata lain yang sejenis preposisi dan sering mengaburkan
subjek adalah dalam, bagi, dari, dengan, sebagai, merupakan, kepada
dan pada. Kalimat akan lengkap
unsurnya jika kata di dalam dihilangkan
dan kata tas itu menempati unsur
subjek.
Perbaikan kalimat dia atas dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu a) jika tetap mempertahankan preposisi yang
mendahului subjek maka predikat diubah menjadi kalimat pasif dan b) jika
predikat tetap dalam bentuk aktif maka preposisi yang mendahului subjek harus
dihilangkan.
Perbaikan untuk kalimat di atas
sebagai berikut:
Tas
itu memuat beberapa buku.
S P O
Ø Kalimat tidak berpredikat
Kalimat yang tidak memiliki
predikat disebabkan oleh adanya keterangan subjek yang terlalu panjang,
keterangan diberi keterangan lagi, sehingga penulis atau pembicaranya terlena
dan lupa bahwa kalimat yang dibuatnya itu belum terdapat predikatnya. Contoh
sebagai berikut.
Proyek raksasa yang menghabiskan
dana yang besar serta tenaga kerja yang banyak dan ternyata pada saat ini sudah
mulai beroperasi karena dikerjakan siang dan malam dan sudah diresmikan pada
awal Repelita yang lalu oleh Kepala Negara.
Kalimat di atas tidak memiliki
unsur predikat, karena kekurangan unsur predikat yang mengakibatkan kalimat
menjadi tidak jelas. Pada contoh kalimat tersebut, penghilangan kata dan sudah cukup memadai dalam usaha
membuat kalimat menjadi berpredikat. Subjek kalimat adalah Proyek raksasa yang menghabiskan dana yang besar serta tenaga kerja
yang banyak itu dan predikat kalimatnya sudah
mulai beroperasi. Perbaikan untuk kalimat di atas sebagai berikut.
Proyek raksasa yang menghabiskan
dana yang besar serta tenaga kerja yang banyak itu ternyata pada saat ini sudah
mulai beroperasi karena dikerjakan siang dan malam dan sudah diresmikan pada
Repelita yang lalu oleh Kepala Negara.
Panjang suatu kalimat bukan
merupakan suatu ukuran kalimat lengkap, sebaiknya kalimat yang dibuat haruslah
pendek dan hemat, tetapi lengkap dan jelas. Pendek, hemat, lengkap dan jelas
merupakan ciri-ciri kalimat efektif
b.
Kalimat
Ambiguitas
Menurut Nanik Setyawati (2013: 85)
berpendapat bahwa ambiguitas adalah kegandaan arti kalimat sehingga meragukan
atau sama sekali tidak dipahami orang lain dan penyebab ambiguitas ada beberapa
hal, di antaranya intonasi yang tidak tepat, pemakaian kata yang bersifat
polisemi, dan struktur kalimat yang tidak tepat. Contoh sebagai berikut:
Pintu
gerbang kerajaan yang indah terbuat dari emas.
Kalimat tersebut dapat diartikan
dengan dua penafsiran : a) keterangan yang
indah dapat mengenai nomina yang terakhir yaitu kerajaan; b) keterangan
dapat mengenai keseluruhannya, yaitu pintu
gerbang kerajaan. Kalimat tersebut menjadi ambigu karena maknanya tidak
jelas. Untuk memperjelas kalimat tersebut maka perlu diubah menjadi kalimat
seperti berikut.
Pintu
gerbang yang ada di kerajaan yang indah itu terbuat dari emas.
5.
Cerita Pendek
Menurut Edgar Allan Poe (Nurgiyantoro, 2007: 10),
cerpen ialah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira
sekitar antara setengah sampai dua jam,suatu hal kiranya tak mungkin dilakukan
untuk sebuah novel. Cerpen mempunyai panjang bervariasi. Ada cerpen yang pendek
(short story) dan jumlah kata sekitar
500 kata, ada cerpen yang lumayan panjang (midle
short story), dan ada cerpen yang panjang (long short story) terdiri dari ribuan kata.
Jakob Sumardjo (2007: 202) bahwa cerita pendek
adalah fiksi pendek yang selesai dibaca dalam “sekali duduk”, hanya memiliki
satu arti, satu krisis, dan satu efek untuk pembacanya. Sumardjo menambahkan
bahwa pengarang cerpen hanya ingin mengemukakan suatu hal yang tajam
menyebabkan dalam penulisan cerpen dituntut ekonomi bahasa.
Dalam
penulisan teks cerita pendek, pengarang memiliki kebebasan penuh dalam hal
mengkreasikan bahasa. Akan tetapi, pengarang tetap harus memperhatiakan
struktur kalimat karena jika struktur kalimat tidak tepat akan mengakibatkan
cerita tidak dapat disampaikan pada pembaca dengan baik. Keefektifan kalimat
juga harus diperhatikan karena cerita pendek menuntut penceritaan yang ringkas
dan padat.
BAB III
METODE PENELITIAN
1.
Pendekatan dan
Jenis Rancangan
Pendekatan penelitian
yang digunakan termasuk jenis penelitian kualitatif. Menurut Moleong (2012: 4), penelitian
kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data-data deskriptif berupa
kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Sedangkan menurut Gunawan (2013: 85) bahwa penelitian kualitatif merupakan
penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang masalah-masalah
manusia dan sosial, bukan mendeskripsikan bagian permukaan dari suatu realitas
sebagaimana dilakukan dalam penelitian kuantitatif dan positivismenya. Peneliti
menginterpretasikan bagaimana subjek memperoleh makna dari lingkungan, dan
bagaimana makna mempengaruhi perilaku mereka. Penelitian hanya dilakukan dalam
latar (setting) yang alamiah (naturalistik) bukan hasil perlakuan
ataupun manipulasi variabel yang dilibatkan. Ada beberapa karakteristik
penelitian kualitatif, yakni:
a.
Mengkaji makna
kehidupan orang-orang dalam kondisi dunia nyata.
b.
Mempresentasikan
pandangan-pandangan atau perspektif partisipan dalam studi.
c.
Mencakup kondisi
kontekstual dimana partisipan berada.
Berdasarkan pendapat
Arikunto dan Moleong. Hal ini dikarenakan penelitian ini untuk
menyelidikikeadaan atau kondisi data berupa kata-kata, yaitu kata-kata yang ada
dalam teks cerita pendek karya siswa SMPN 1 Pangkalan Bun kelas VII secara apa
adanya.
2.
Kehadiran
Peneliti
Kehadiran peneliti di
lapangan dalam penelitian kualitatif menurut Miles dan Huberman (1992) adalah
suatu yang mutlak, karena peneliti bertindak sebagai instrumen penelitian
sekaligus pengumpul data. Keuntungan yang didapat dari kehadiran peneliti
sebagai instrumen adalah subjek lebih tanggap akan kehadiran peneliti, peneliti
dapat menyesuaikan diri dengan setting penelitian, keputusan yang
berhubungan dengan penelitian dapat diambil dengan cara cepat dan terarah,
demikian juga dengan informasi dapat diperoleh melalui sikap dan cara informan
dalam memberikan informasi.
Pengamatan terhadap
sarana dan prasarana, aktifitas manajemen dalam implementasi juga dilakukan
selama periode tersebut. Menurut Sugiyono (2011:306), peneliti kualitatif
sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih
informan sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data,
analisis data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas temuannya. Menurut
Nasution (dalam Sugiyono, 2011:307-308), kehadiran peneliti sebagai instrumen
penelitian serasi untuk penelitian kualitataif itu sendiri karena memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
a.
Peneliti sebagai
instrumen dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungan yang harus
diperkirakan bermakna atau tidak bagi penelitian.
b.
Peneliti sebagai
alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan dan dapat
mengumpulkan aneka ragam data sekaligus.
c.
Tiap situasi
merupakan keseluruhan. Tidak ada suatu instrument yang dapat menangkap
keseluruhan situasi kecuali manusia.
d.
Suatu situasi
yang melibatkan interaksi manusia, tidak dapat dipahami dengan pengetahuan
semata, namun perlu sering merasakannya, menyelaminya berdasarkan pengetahuan
kita.
e.
Hanya manusia
sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan berdasarkan data yang dikumpulkan
pada suatu saat dan menggunakan segera sebagai balikan untuk memperoleh
penegasan, perubahan, perbaikan atau perelakan.
3.
Instrumen
Penelitian
Menurut Arikunto (2013:
262), instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan dalam mengumpulkan
data. Dalam penelitian ini yang menjadi instrumen penelitian adalah peneliti
itu sendiri. Menurut Moleong (2007: 168) yang dimaksud peneliti itu sendiri
atau manusia sebagai instrumen penelitian adalah peneliti sekaligus merupakan
perencana, pelaksanaan, pengumpulan data, analisis, penafsiran data, dan
akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian.
4.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data
dilakukan dalam berbagai setting, sumber, dan cara. Bila dilihat dari
sumber datanya, pengumpulan data dapat menggunakan dua sumber, yaitu sumber
primer dan sumber sekunder(Sugiyono, 2011:308). Sumber primer adalah sumber
data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber sekunder
merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data.
Teknik pengumpulan data
merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan penelitian
adalah mendapatkan data. Selanjutnya jika dilihat dari cara atau teknik
pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara:
observasi (pengamatan), wawancara (interview), dan dokumentasi atau
gabungan semuanya (Sugiyono, 2011:309). Pengumpulan data dalam penelitian ini
dilakukan dengan menggunakan 3 (tiga) teknik, yaitu wawancara, observasi, dan
dokumentasi.
5.
Data dan Sumber
Menurut Arikunto (2013:
172), sumber data adalah subjek dimana data dapat diperoleh. Sumber data
penelitian adalah teks cerita pendek karya siswa kelas VII SMPN 1 Pangkalan Bun.
Peneliti memilih teks cerita pendek menjadi sumber data karena sesuai dengan
materi pembelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013 Edisi Revisi kelas VII.
Data penelitian berbentuk tulisan berupa kalimat dalam teks cerita pendek yang mengandung kesalahan kalimat.
6.
Teknik Analisis
Data
Analisis data
kualitatif merupakan upaya yang dilakukan dengan cara bekerja dengan data,
mengorganisasikan data, mencari dan menemukan pola, menemukan yang paling
penting dan dipelajari, serta memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada
orang lain (Moleong, 2012: 248).
Metode yang digunakan
peneliti dalam upaya menentukan kaidah tahap analisis data adalah metode padan
ortografis. Metode padan adalah metode yang alatnya berada di luar, terlepas
dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan. Sedangkan ortografis
adalah subjenis metode padan yang penentunya berupa tulisan (Sudaryanto, 2015:
15). Alat penentu dalam penelitian adalah Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, teori Hasan Alwi, dkk.
(2008), dan teori Sri Hapsari Wijayanti (2013) mengenai kalimat. Menurut
langkah analisis data Miles dan Huberman (1984) yang dilakukan oleh peneliti,
yaitu :
a.
Reduksi Data
Pada tahap reduksi data, peneliti mencatat dan
mengklasifikasi data berdasarkan jenis kesalahannya. Selanjutnya, peneliti
memberikankode pada setiap data. Setelah memberi kode, peneliti menganalisis
kesalahan kalimat berdasarkan kelengkapan unsur, keefektifan kalimat, dan
kalimat ambigu. Terakhir, peneliti memberikan pembetulan dalam kalimat.
b.
Penyajian Data
Pada tahap penyajian data, peneliti menyajikan data
dalam bentuk tabel.
c.
Verifikasi
Kesimpulan
Untuk menjamin tingkat kepercayaan dan keabsahan
hasil penelitian, peneliti melanjutkan proses analisis dengan triangulasi data
yang dilakukan oleh ahli analisis kesalahan berbahasa.
7.
Triangulasi
Dalam teknik triangulasi
menggunakan reduksi data peneliti. Triangulasi sebagai teknik untuk mengecek
keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil
wawancara terhadap objek penelitian (Moloeng, 2004:330).
Triangulasi dapat
dilakukan dengan menggunakan teknik yang berbeda (Nasution, 2003:115) yaitu
wawancara, observasi dan dokumen. Triangulasi ini selain digunakan untuk
mengecek kebenaran data juga dilakukan untuk memperkaya data. Menurut Nasution,
selain itu triangulasi juga dapat berguna untuk menyelidiki validitas tafsiran
peneliti terhadap data, karena itu triangulasi bersifat reflektif.
Menurut Denzin (dalam
Moloeng, 2004), membedakan empat macam triangulasi diantaranya dengan
memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Pada penelitian
ini, dari keempat macam triangulasi tersebut, peneliti hanya menggunakan teknik
pemeriksaan dengan memanfaatkan sumber. Triangulasi dengan sumber artinya
membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang
diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif
(Patton,1987:331). Adapun untuk mencapai kepercayaan itu, maka ditempuh langkah
sebagai berikut :
a.
Membandingkan
data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
b.
Membandingkan
apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara
pribadi.
c.
Membandingkan
apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang
dikatakannya sepanjang waktu.
d.
Membandingkan
keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan
masyarakat dari berbagai kelas.
e.
Membandingkan
hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
Teknik triangulasi yang
paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lain. Model
triangulasi diajukan untuk menghilangkan dikotomi antara pendekatan kualitatif
dan kuantitatif sehingga benar-benar ditemukan teori yang tepat. Menurut Murti
B. (2006) menyatakan bahwa tujuan umum dilakukan triangulasi adalah untuk
meningkatkan kekuatan teoritis, metodologis, maupun interpretatif dari sebuah
riset. Dengan demikian triangulasi memiliki arti penting dalam menjembatani
dikotomi riset kualitatif dan kuantitatif, sedangkan menurut Yin R.K, 2003
menyatakan bahwa pengumpulan data triangulasi (triangulation) melibatkan
observasi, wawancara dan dokumentasi.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi uraian tentang deskripsi
data, hasil analisis data, dan pembahasan. Pada bagian deskripsi data, peneliti
menggambarkan bentuk data yang akan diteliti. Pada bagian hasil analisis data,
peneliti mengungkapkan data secara apa adanya dengan disertai contoh analisis
data tersebut. Pada bagian pembahasan, peneliti menguraikan pembahasan hasil
analisis data yang diperoleh dan dihubungkan dengan teori penelitian untuk
memperoleh pemahaman.
1.
Deskripsi Data
Berdasarkan langkah-langkah penelitian pada Bab III,
peneliti menyajikan data kesalahan kalimat dalam teks cerita pendek karya siswa
kelas VII SMPN 1 Pangkalan Bun. Penelitian kesalahan kalimat dibatasi pada
tiga jenis, yaitu a) kekurangan unsur
kalimat, b) kalimat ambigu, dan c) kalimat tidak efektif.
Data yang terkumpul berupa data kesalaahan kalimat
yang terdapat dalam lima belas teks cerita pendek. Penulisan teks cerita pendek
didasarkan pada tema “Persahabatan”, peneliti menemukan 155 kesalahan dalam
kalimat. Sebagian besar kalimat mengandung kesalahan kalimat tidak efektif dan hanya ada beberapa yang mengandung
kesalahan kekurangan unsur kalimat dan kalimat ambigu. Berikut tabel jumlah
kesalahan yang terdapat pada masing-masing teks cerita pendek.
Kode Cerpen (C)
|
Kesalahan Kalimat
|
|||
Kekurangan Unsur Kalimat
|
Kalimat Ambigu
|
Kalimat Tidak Efektif
|
||
C1
|
2
|
1
|
10
|
|
C2
|
−
|
1
|
9
|
|
C3
|
−
|
−
|
10
|
|
C4
|
−
|
1
|
6
|
|
C5
|
−
|
−
|
−
|
|
C6
|
2
|
−
|
3
|
|
C7
|
−
|
−
|
11
|
|
C8
|
−
|
−
|
4
|
|
C9
|
−
|
1
|
5
|
|
C10
|
3
|
−
|
3
|
|
C11
|
1
|
−
|
22
|
|
C12
|
1
|
−
|
8
|
|
C13
|
3
|
−
|
9
|
|
C14
|
1
|
1
|
7
|
|
C15
|
−
|
−
|
7
|
|
JUMLAH
|
13
|
5
|
114
|
|
2.
Hasil Analisis
Data
Data dikelompokkan berdasarkan kategori
kesalahannaya, secara garis besar analisis dibatasi dalam kategori kekurangan
unsur kalimat, kalimat ambigu dan kalimat tidak efektif. Analisis kesalahan
susunan kalimat hanya dilakukan pada kalimat tidak langsung, karena bentuk
kalimat langsung merupakan bentuk tertulis dari percakapan jadi tidak terpaku
pada kaidah penulisan kalimat yang baik.
1)
Kekurangan Unsur
Kalimat
a.
Kekurangan Unsur
Subjek
Contoh kalimat yang mengandung kekurangan unsur
subjek adalah:
·
Menurutnya lebih
irit dan praktis tentunya. (C1 (7))
·
Yaitu tradisi
anak baru harus mentraktir seniornya kalau sudah gajian nanti. (C1 (15))
Kalimat di atas mengandung kekurangan unsur subjek
dan dapat dilihat dalam data untuk membuktikannya. Pembetulan kalimat di atas
adalah:
·
Menurut dia hal itu lebih irit dan praktis
tentunya.
·
Tradisi bagi
anak baru yaitu harus mentraktir seniornya kalau sudah gajian nanti.
b.
Kekurangan Unsur
Subjek dan Predikat
Contoh kalimat yang mengandung kekurangan unsur
subjek dan predikat adalah sebagai berikut :
·
Seperti biasa,
dengan kedua sahabatku. Namanya Dani dan Maya.(C10 (2))
·
Bukan untuk
bermain tetapi untuk salat tarawih bersama. (C13 (16))
Kalimat di atas
mengandung unsur keterangan dan kalimat yang baik harus mengandung unsur subjek
dan predikat. Pembetulan kalimat di atas adalah sebagai berikut:
·
Seperti biasa, aku bersama kedua sahabatku. Namanya
Dani dan Maya.
·
Mereka berkumpul
bukan untuk bermain, melainkan untuk salat tarawih bersama.
c.
Kekurangan Unsur
Objek
Contoh kalimat yang mengandung kekurangan unsur
objek adalah sebagai berikut:
·
Tiba dimana uts
akan segera diadakan, entah kenapa mereka bertiga dengan tiba-tiba minta maaf
ke Dwi, Dwi memaafkan dan mereka bertiga dengan harapan tidak akan terjadi lagi
peristiwa yang dulu. (C11 (27))
Kalimat di atas
kekurangan unsur objek, padahal pada predikat kalimat itu transitif (predikat
yang diikuti objek). Kata hubung dan
sebaiknya dihilangkan supaya kalimat menjadi berobjek. Pembetulan kalimat di
atasadalah sebagai berikut:
·
Tiba dimana uts
akan segera diadakan, entah kenapa mereka bertiga dengan tiba-tiba minta maaf
ke Dwi, Dwi memaafkan mereka bertiga dengan harapan tidak akan terjadi lagi
peristiwa yang dulu.
2)
Kalimat Ambigu
Terdapat
beberapa kalimat di dalam teks cerita pendek yang mengandung makna ganda.
Contoh kalimatnya sebagai berikut.
a.
Aturan mainnya
yang kalah mukanya harus dicoretin pakai spidol. (C1 (12))
Kalimat
ambigu pada bagian yang kalah mukanya
harus dicoretin.
Kalimat
memiliki dua makna, yaitu :
·
......yang
kalah, mukanya harus dicoretin......
·
......yang kalah
mukanya, harus dicoretin......
b.
Sesampainya di
rumah, betapa sangat terkejutnya Dini, karena Dian sahabatnya yang katanya akan
pindah ke luar kota pada hari ini berada di halaman depan rumahnya sambil
membawa hadiah. (C2 (14))
Kalimat
ambigu pada bagian Dian sahabatnya yang
katanya akan pindah ke luar kota pada hari ini berada di halaman .
Kalimat
memiliki dua makna, yaitu:
·
.............Dian
sahabatnya yang katanya akan pindah ke luar kota pada hari ini, berada di
halaman depan rumahnya.
·
.............Dian
sahabatnya yang katanya akan pindah ke luar kota, pada hari ini berada di
halaman depan rumahnya.
c.
Namun pada hari
ini sahabatnya Ika tak pernah kelihatan lagi, hampir sudah 3 minggu ini. (C14
(5))
Kalimat
ambigu pada bagian sahabatnya Ika ,
karena dapat memiliki dua makna, yaitu:
·
Sahabatnya yang
bernama Ika.
·
Sahabat dari
Ika.
Pembetulan kalimat supaya tidak ambigu adalah
sebagai berikut.
a)
Aturan mainnya,
yang kalah, mukanya harus dicoretin pakai spidol.
b)
Sesampainya di
rumah, betapa sangat terkejutnya Dini karena Dian sahabatnya berada di halaman
rumahnya sambil membawa hadiah.
c)
Namun pada hari
ini, sahabatnya, Ika, tidak pernah kelihatan lagi, hampir tiga minggu ini.
3)
Kalimat Tidak
Efektif
Terdapat beberapa kalimat di dalam cerita pendek
yang tidak efektif. Contoh kalimat yang tidak efektif adalah sebagai berikut:
a.
Semua
teman-teman pada ngirit, sampai makan pun apa adanya. (C1 (8))
b.
Saat sampai di
rumahnya aku mendapat kabar bahwa Intan sakit dan sudah lama dirawat, dari
rumah sakit Intan juga tidak jauh dari rumahnya. (C7 (16))
c.
Sudah beberapa
kali Dewy mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari dalam rumahnya, kemudian
tiba-tiba muncul orang dari sebelah rumah. (C14 (9))
Kalimat tersebut termasuk kalimat yang tidak
efektif. Kalimat (a) termasuk kalimat tidak efektif karena tidak memenuhi ciri
kalimat efektif yaitu kehematan. Kalimat (b) termasuk kalimat tidak efektif
karena tidak memenuhi ciri kalimat efektif yaitu keringkasan dan ketepatan
diksi. Kalimat (c) termasuk kalimat tidak efektif karena tidak memenuhi ciri
kalimat efektif yaitu keringkasan.
Pembetulan kalimat di atas sebagai berikut:
a)
Teman-teman pada
ngirit sampai makan pun apa adanya.
b)
Saat sampai di
rumahnya, aku mendapat kabar bahwa Intan sakit dan sudah lama dirawat di rumah
sakit Intan juga tidak jauh dari rumahnya.
c)
Sudah beberapa
kali Dewy mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari dalam rumahnya. Tiba-tiba
muncul orang dari sebelah rumah.
3.
Pembahasan
Setelah melakukan proses analisis data pada lima
belas teks cerita pendek karya siswa kelas VII SMPN 1 Pangkalan Bun, peneliti
menemukan 155 kesalahan yang terkandung dalam kesalahan kalimat. Pada bagian
pembahasan, peneliti akan menguraikan hasil analisis data yang mencakup
kesalahan kalimat.
1)
Pembahasan
Kesalahan Kalimat
Berdasarkan analisis data, ditemukan tiga jenis
kesalahan kalimat. Kesalahan yang ditemukan meliputi (a) kekurangan unsur
kalimat, (b)kalimat ambigu, dan (c) kalimat tidak efektif.
Kesalahan kalimat yang paling banyak ditemukan pada
teks cerita pendek karya siswa kelas VII SMPN 1 Pangkalan Bun adalah kalimat
tidak efektif. Kesalahan kalimat yang tidak efektif terjadi karena siswa masih
bertele-tele dalam menyusun kalimat. Hal itu didasarkan pada pendapat Wijayanti
(2015: 68-75) menyatakan bahwa salah satu ciri dari kalimat efektif yaitu
keringkasan (menggunakan kata yang ringkas).
Kesalahan kalimat kedua yaitu kekurangan unsur
kalimat. Penemuan kekurangan unsur kalimat dilandasi oleh teori Hasan Alwi dkk.
(2008) dan Sri Hapsari Wijayanti (2013). Keduanya memaparkan unsur pembangun
yang wajib hadir adalah unsur subjek dan predikat. Di samping itu, ada kalimat
yang memiliki unsur objek, pelengkap dan keterangan yang kehadirannya tidak
wajib. Dalam analisis ddata, ditemukan kalimat yang tidak memiliki subjek dan
predikat. Berdasarkan teori yang digunakan, kalimat yang tidak mengandung unsur
subjek dan predikat merupakan kalimat tidak tepat.
Kesalahan kalimat yang ditemukan selanjutnya adalah
kalimat ambigu. Peneliti menemukan lima kesalahan kalimat ambigu dan penentuan
kalimat ambigu didasarkan pada pendapat Nanik Setyawati (2013: 85).
Tingginya tingkat kesalahan kalimat yang dilakukan
oleh siswa kelas VII SMPN 1 Pangkalan Bun diperkiraan karena adanya beberapa
faktor diantaranya adalah ketidakcermatan siswa ketika menulis dan kurangnya
pemahaman siswa terhadap kaidah penulisan. Selain itu, kurangnya motivasi
menulis cerpen sebagai penyebab terjadinya kesalahan. Kurangnya motivasi
mengakibatkan siswa tidak bersungguh-sungguh menulis cerpen.
Pemahaman
terhadap kaidah penulisan dapat ditingkatkan melalui latihan menulis karangan
yang diberikan oleh guru. Latihan menulis karangan yang diberikan sebaiknya
menggunakan tema yang menarik bagi siswa sehingga siswa akan lebih tertarik
untuk menulis. Selanjutnya guru mengoreksi dan memberikan komentar mengenai
kalimat yang telah disusun oleh siswa. Hal itu akan membuat siswa lebih tahu
letak kesalahan dan dapat memperbaikinya. Selain itu, proses pembelajaran
menulis seharusnya dikemas dalam kegiataan menarik sehingga siswa tidak terasa
jenuh dan malas untuk menulis.
DAFTAR RUJUKAN
Alwi, Hasan dkk.2008.Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Arikunto, Suharsimi.2013.Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta.
Depdikbud.1995. Kurikulum
IKIP Bandung 1993. Bandung: IKIP Bandung.
Gunawan, Imam.2013.Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik. Jakarta : Bumi
Aksara.
Kridalaksana, Harimurti.2008.Kamus Linguistik Edisi Empat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kuntarto, Ninik M.2007.Cermat Teliti dalamBerbahasa Berpikir. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Mahsun.2012.Metode
Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta:
Rajawali Pers.
Milles, M.B. and Huberman, M.A.1984.Qualitative Data Analysis . London: Sage
Publication.
Moleong, Lexy J.2012.Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nurgiyantoro, Burhan.2007.Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Razak, Abdul.1990. Kalimat Efektif. Jakarta: Gramedia.
Setyawati, Nanik.2013.Analisis Kesalahan Berbahasa Indonsia : Teori dan Praktik.
Surakarta: Yuma Pustaka.
Soedjito dan Djoko Saryono.2014.Tata Kalimat Bahasa Indonesia. Malang: Aditya Media Publishing.
Sudaryanto.2015.Metode
dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta : Diandra Primamitra.
Sumardjo, Jakob.2007.Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Tarigan, Djago & Lilis Siti
Sulistyaningsih.1996/1997.Analisis
Kesalahan Berbahasa. Jakarta: Depdikbud Dirjen Pendidikan Dasar dan
Menengah Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III.
Tarigan, Henry Guntur.1988.Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Widjono, Hs.2005.Bahasa
Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta
:Grasindo.
Wijayanti, Sri Hapsari.2015.Bahasa Indonesia : Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah. Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
BAB IV
Penutup
A.
Kesimpulan
Berdasarkan analisis data dan pembahasan, dapat
ditarik kesimpulan bahwa dalam teks cerita pendek karya siswa kelas VII SMP
Negeri 1 Pangkalan Bun masih ditemukan kesalahan kalimat.Peneliti menemukan 3
kesalahan kalimat meliputi 1) kekurangan unsur kalimat, 2) kalimat tidak
efektif, dan 3) kalimat ambigu.Kesalahan kalimat yang paling banyak dilakukan
oleh siswa adalah kekurangan unsur kalimat dan kalimat tidak efektif.
B.
Saran
LAMPIRAN
ANALISIS DATA
No
|
Data
|
Analisis Kesalahan Kalimat
|
Keterangan
|
|
1.
|
"Kangen, itu yang kurasakan saat ini setelah hampir 4 tahun lamanya
aku tidak pernah bertemu lagi dengan sahabat-sahabat istimewaku. (C1)
|
Kalimat Tidak Efektif
|
Kata lamanya sebaiknya dihilangkan karena empat tahun sudah pasti
waktu yang lama. Pembetulan : Kangen,
itu yang kurasakan saat ini setelah hampir 4 tahun aku tidak bertemu dengan
sahabat-sahabat istimewaku.
|
|
2.
|
Mbak Indra biasanya yang sering memasak nasi untuk kami, sementara kami
hanya tinggal beli lauknya saja di warung terdekat. (C5)
|
Kalimat Tidak Efektif
|
Tidak memenuhi ciri kalimat efektif yaitu kehematan. Pembetulan :
Biasanya mbak Indra memasak nasi untuk kami, sementara kami hanya membeli
lauknya di warung terdekat.
|
|
3.
|
Sampai-sampai yang masak pun tidak kebagian nasi. (C6)
|
Kalimat Tidak Efektif
|
Kalimat tidak efektif karena sampai-sampai seharusnya tidak
diletakkan pada awal kalimat. Pembetulan :Yang masak pun tidak kebagian nasi.
|
|
4.
|
Menurutnya lebih irit dan praktis tentunya. (C7)
|
Tanpa Unsur Subjek dan Kalimat Tidak
Efektif
|
Kalimat tidak efektif karena tidak ada subjek. Sebaiknya ditambah
dengan hal itu supaya kalimat menjadi bersubjek. Pembetulan : Menurut
dia hal itu lebih irit dan praktis tentunya.
|
|
5.
|
Semua teman-teman pada ngirit, sampai makan pun seadanya. (C8)
|
Kalimat Tidak Efektif
|
Kata teman-teman sudah menunjukkan bentuk jamak jadi kata semua
seharusnya dihilangkan supaya lebih efektif. Pembetulan : Teman-teman pada
ngirit, sampai makan pun seadanya.
|
|
6.
|
Tak tahunya yang dibelinya justru molen dan pisang goreng. (C9)
|
Kalimat Tidak Efektif
|
Kalimat tidak efektif karena mengulang kata ganti nya. Pembetulan
: Tak tahunya makanan yang dibeli adalah molen dan pisang goreng.
|
|
7.
|
Aku dan teman-teman yang lain sampai ketawa gara-gara Lia
salah beli gorengan. (C10)
|
Kalimat Tidak Efektif
|
Kata ketawa lebih tepat jika diganti dengan tertawa. Pembetulan
: Aku dan teman-teman yang lain tertawa gara-gara Lia salah beli gorengan.
|
|
8.
|
Aturan mainnya yang kalah mukanya harus dicoretin pakai spidol.
(C12)
|
Kalimat Ambigu
|
Kalimat memiliki dua makna, yaitu :
a) ......yang kalah, mukanya harus dicoretin...... ; b) ......yang
kalah mukanya, harus dicoretin...... . Pembetulan : Aturan mainnya, yang kalah, mukanya harus
dicoretin pakai spidol.
|
|
9.
|
Dan kenangan yang satu ini pasti selalu ku ingat sekarang. (C14)
|
Kalimat Tidak Efektif
|
Kata ku ingatseharusnya ditulis kuingat. Pembetulan :
Kenangan yang satu ini pasti selalu kuingat sekarang.
|
|
10.
|
Yaitu tradisi bagi anak baru harus mentraktir seniornya kalau sudah
gajian nanti. (C15)
|
Tanpa Unsur Subjek dan
Kalimat Tidak Efektif
|
Kalimat tidak efektif karena tidak mengandung subjek. Kata yaitu
seharusnya diletakkan setelah kata baru. Pembetulan : Tradisi bagi
anak baru yaitu harus mentraktir seniornya kalau sudah gajian nanti.
|
Komentar
Posting Komentar